SALAH DUGA (cerita pendek)
| cover cerpen SALAH DUGA |
SALAH DUGA
Gilbert, Aksa, dan Renald duduk di kafe dekat Stasiun
Bogor, membahas ide untuk lomba film pendek. Aksa mengusulkan cerita tentang
seseorang yang selalu gagal mengambil keputusan karena kejadian random
yang menghalanginya. Renald tertawa, merasa ide itu relatable. Gilbert
mencatat dan mulai menyusun alur cerita.
Seminggu kemudian, mereka kembali ke kafe dengan naskah
kasar. Gilbert menjelaskan langkah-langkah menulis naskah, yaitu menentukan
premis, membuat struktur, mengembangkan karakter, dan menyempurnakan dialog.
Aksa dan Renald memberi masukan, sementara Gilbert mengetik ulang beberapa
bagian.
Tiga minggu kemudian, mereka berhasil mendapatkan aktor,
meski sebagian besar hanyalah teman Renald yang dipaksa ikut dengan iming-iming
traktiran bakso. Para aktor berkumpul di taman belakang rumah Aksa untuk sesi reading
naskah. Sementara Gilbert fokus pada teknik pengambilan gambar, Renald malah
asyik bermain Mobile Legends hingga membuat yang lain gemas.
"Serang itu, woi!”
“Yaelah, pada ke mana sih tim gue? Woy,”
“Habisin dulu minionnya!”
“Jangan mencar!”
“Bantu itu di bawah!"
Renald heboh sendiri dengan game diponselnya.
“Ren, kita mau reading naskah atau reading
strategi main ML?” kata Aksa menatap Renald.
Gilbert menutup laptopnya, menimun es jeruk yang segar.
“Udah lah, kalo nunggu dia selesai, bisa keburu pagi. Kita mulai aja sekarang.”
Renald menoleh sejenak, “sabar bro, ini Namanya refreshing
sebelum kerja keras,” lalu menatap ponselnya kembali.
“Refreshing apa kalo akhirnya kalah, kocak.” Aksa
mengigit bakso gorengnya, “itu tandanya lo harus cari hobi atau game baru.”
Para aktor yang awalnya diam, kini tertawa bersama.
Reading naskah berlangsung penuh tawa. Gilbert
mengarahkan para aktor, memperbaiki dialog agar lebih emosional.
“Lo harusnya lari panik ke arah kanan, bukan ke kulkas,”
tegurnya saat Evan, salah satu aktor, malah mengambil minuman. Adegan demi
adegan dicoba, beberapa berhasil, beberapa lainnya gagal total. Namun, mereka
akhirnya merasa cukup siap untuk syuting.
Seminggu berikutnya, mereka berkumpul sejak pagi. Semua
set telah disiapkan, dan syuting dimulai pukul 7 pagi hingga selesai pukul 5
sore.
Setelah proses syuting yang panjang dan melelahkan,
Gilbert, Aksa, dan Renald berkumpul di kamar Gilbert untuk memulai proses editing.
Laptop terbuka, dan gelas kopi kosong menjadi saksi betapa seriusnya mereka
dalam menyusun film pendek ini.
Gilbert duduk di depan layar, jari-jarinya lincah
menggeser klip demi klip di timeline editor. Aksa berdiri di
belakangnya, sesekali mengomentari sudut pengambilan gambar yang terasa kurang
pas.
“Potongan ini terlalu panjang, gak ada ritmenya,” keluh
Aksa sambil menunjuk layar.
“Kalau kita potong di sini, transisinya jadi kaku.” Kata
Gilbert.
“Kalau kita geser sedikit?” Aksa menyeret klip ke kiri,
mencoba mencocokkan dengan adegan berikutnya. Namun, setelah diputar ulang,
hasilnya masih terasa aneh.
“Lihat, dialognya jadi gak sinkron,” ujar Renald sambil
menunjuk bagian audio yang terdengar terputus.
Malam-malam mereka dihabiskan di depan laptop,
menggabungkan adegan, menyempurnakan transisi, dan memperbaiki audio. Color
grading menjadi tantangan tersendiri—warna adegan siang berubah menjadi
malam, dan beberapa kali hasilnya justru terlihat absurd.
Salah satu adegan kunci ternyata kurang pencahayaan,
membuat ekspresi aktor sulit terlihat. Transisi antar adegan terasa kasar,
menyebabkan celah dalam alur cerita. Frustrasi mulai merayapi mereka. Gilbert
menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kita gak bisa lanjut kalau gini terus.” Gilbert
mengusap wajahnya.
Aksa menjatuhkan diri ke tempat tidur. “Kita harus ulang
dari awal, gak ada pilihan lain.”
Renald bangkit dari posisi duduknya, mengambil gelas
kopi kosong dan memutarnya di tangannya. “Atau kita buat ulang endingnya. Kalau
kita gak bisa nyelamatin adegan ini, mungkin kita bisa bikin cerita yang
berbeda.”
Setelah berhari-hari revisi, dibantu Desi, mereka
akhirnya menyelesaikan film pendeknya. Meski hasilnya tidak sesuai rencana.
Audio yang seadanya, collor grading yang kadang terlihat seperti tugas
anak sekolah dibeberapa adegan, sound fx yang sangat sedikit, dan backsound
yang diubah karena kena copyright. Tapi mereka bertiga yakin untuk
mengirim film pendek tersebut ke lomba yang tengah berlangsung.
Bulan-bulan berlalu tanpa kabar, hingga suatu malam
Renald menerima pesan dari panitia lomba. “Film yang Anda kirim mendapatkan
Juara Favorit.” Renald membaca pesan itu berulang kali sebelum melompat
dari kasur dan langsung menghubungi Gilbert dan Aksa.
Dalam obrolan grup WhatsApp:
Gilbert: "Lo sadar gak? Kita tuh ngedit kayak orang
bego, tapi tetap menang."
Renald: "Itulah hidup, bro. Kadang yang paling kacau
justru paling berkesan."
Aksa: "Sumpah, ini lebih gak masuk akal daripada ending
film kita sendiri."
Keesokan harinya, mereka kembali berkumpul di kafe yang
sama—tempat ide gila itu pertama kali lahir. Duduk di bangku yang sama, dengan
minuman yang sama, hanya saja kali ini ada satu perbedaan: mereka membawa
kemenangan.
"Gue gak percaya," gumam Gilbert yang masih
tidak percaya.
"Gue juga gak percaya," tambah Aksa.
"Tapi nomor rekening udah gue kirim." Renald
menatap mereka dengan serius.
Mereka semua langsung duduk tegak. "YANG
BENER?"
Satu jam kemudian, notifikasi transfer masuk.
"DUITNYA MASUK!" seru Renald, membuat Gilbert
dan Aksa bersemangat.
Gilbert dan Aksa langsung berdiri, menatap layar ponsel
Renald seperti anak kecil melihat es krim gratis.
"Jadi… uangnya mau kita pakai buat bikin film
baru?" tanya Aksa.
"Gak." Jawab Gilbert singkat.
"Makan enak?" tanya Aksa dengan senyum.
Gilbert, Renald dan Aksa tertawa. Dan tanpa berpikir
panjang, mereka keluar kafe, mencari restoran all-you-can-eat terdekat.
Komentar
Posting Komentar