LUMPIA RINDU (cerpen)
LUMPIA RINDU
Pagi
itu, terminal sudah dipadati manusia.
Pukul
setengah tujuh, Fachri duduk di kursi ruang tunggu, ditemani segelas teh hangat
yang masih panas mengepul. Udara pagi bercampur riuh rendah suara penumpang
yang berlalu-lalang. Libur panjang akhir pekan membuat terminal serupa lautan
koper dan kardus.
Namun,
Fachri berbeda. Ia hanya membawa sebuah ransel hitam. Empat hari liburan
termasuk perjalanan pulang pergi, baginya, tidak memerlukan banyak barang. Ia
menatap jam tangannya sejenak, lalu kembali menyeruput teh yang mulai dingin.
Pukul
tujuh lewat lima, bus Shantika jurusan Bogor–Jepara akhirnya tiba. Fachri
beranjak, mengikuti arus manusia yang bergerak ke arah bus. Ia meletakkan
ranselnya di bagasi atas bangku nomor 1A.
Sepuluh
menit berlalu, bus mulai melaju, meninggalkan terminal yang semakin sesak. Ia
merebahkan tubuhnya, menurunkan sandaran kursi, dan mengangkat sandaran kaki.
Pukul
sepuluh pagi, bus Shantika berhenti di sebuah terminal kecil di Bekasi.
Terminal itu sederhana, hanya deretan kios yang sesekali dipenuhi pedagang
asongan.
Setelah
semua penumpang duduk di tempat masing-masing, bus kembali bergerak.
Tepat
pukul dua belas siang, bus tiba di sebuah rumah makan.
Fachri
melangkah masuk ke dalam, meja panjang dengan makanan prasmanan tersusun rapi.
Penumpang mengantre, mengambil nasi dan lauk. Di ujung meja, petugas mencabik
sudut tiket sebagai bukti. Fachri, dengan nampan berisi sepiring nasi dan lauk
sederhana, melangkah pelan, mencari tempat duduk.
Ia
menoleh ke kanan dan kiri—semua meja hampir penuh. Wajah-wajah penumpang yang
tengah makan terlihat lelah namun tetap antusias. Fachri berhenti, matanya
menyapu sudut ruangan. Tak ada tempat tersisa.
“Mas,”
suara lembut memanggil.
Fachri
menoleh, menemukan seorang perempuan yang duduk di meja dekat jendela. Wajahnya
teduh, senyumnya ringan, dan tangannya memberi isyarat ke arah bangku kosong di
hadapannya.
Fachri
ragu. Tapi perempuan itu mengangguk kecil, seolah menghapus keraguannya.
“Terima
kasih,” ujar Fachri singkat. Perempuan itu hanya tersenyum sambil melanjutkan
makan siangnya.
“Sama-sama.
Tapi maaf ya kalau mejanya jadi bareng, malah jadi kayak dinner,”
perempuan itu bercanda.
“Iya, gak apa-apa. Mari makan,” jawab Fachri.
Bus
berhenti selama satu jam di rumah makan ini, waktu yang cukup bagi para
penumpang untuk makan, pergi ke toilet, atau menunaikan ibadah salat Zuhur
sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan mereka. Fachri telah selesai
makan dan mengambil kembali segelas teh untuk diminum. Sementara itu, perempuan
di hadapannya masih menyantap makanannya. Perempuan itu terlihat lucu, pipinya
penuh dengan makanan, namun wajahnya terlihat seperti lelah mengunyah. Fachri
sadar, perempuan di depannya sudah kenyang.
“Panggilan
untuk penumpang bus Shantika dengan nomor 5A agar segera kembali ke bus karena
bus akan diberangkatkan kembali,” ucap kondektur melalui pengeras suara.
“Eh,
gue duluan ya. Bus gue udah mau berangkat lagi,” ujar perempuan di hadapannya,
yang kini telah bangkit dari bangkunya. Fachri mengangguk sambil tersenyum.
“Oh,
iya,” jawab Fachri sambil mengangguk kecil.
“Kalau
gitu gue duluan ya. Dah,” perempuan itu berjalan seraya melambaikan tangan ke
arah Fachri, yang berdiri di depan pintu rumah makan. Fachri tidak membalas
lambaian tangan itu, ia hanya tersenyum.
Kini
giliran bus Fachri yang akan berangkat. Tanpa berlama-lama, Fachri langsung
kembali ke bus, kondektur memeriksa daftar penumpang, lalu memimpin doa agar
perjalanan berjalan lancar.
Bus
yang ditumpangi Fachri kembali melaju, meninggalkan rumah makan dan masuk ke Jalan
Tol Trans Jawa.
Sore
menjelang, bus akhirnya berhenti di pintu keluar Tol Krapyak. Fachri turun
dengan tas ransel di punggungnya. Udara Kota Semarang menyambutnya, sedikit
pengap kesan pertama yang Fachri rasakan. Segera ia membuka aplikasi ojek online
untuk mencari tumpangan ke penginapan yang sudah ia pesan sebelumnya.
Tak
lama, seorang pemuda mendekat dengan sepeda motor BeAT keluaran 2015. Fachri
melirik pelat nomor motor itu, mencocokkannya dengan yang tertera di
aplikasinya. Sama, gumamnya pelan.
“Mas
Fachri, ya?” Pemuda itu menghentikan motornya di hadapan Fachri.
“Iya,
betul,” jawab Fachri singkat sambil tersenyum tipis.
“Ke
Unnes, kan?” tanya pemuda memastikan.
“Iya,
Mas.”
Fachri
duduk di motor itu, sesekali membuka ponselnya melihat rute jalan di sekitar
penginapannya. Letaknya ada di sekitar Universitas Negeri Semarang, bukan di
pusat kota apalagi hotel mewah. Harga murah, hanya 80 ribu rupiah per malam.
“Nah
ini udah masuk kawasan Unnes mas.”
Fachri
melihat ke segala arah.
“Udah
sampe mas.”
______
Keesokan
paginya, Fachri pergi mencari sarapan dengan motor sewaan. Fachri berhenti di
sebuah warung makan tegal di depan Gang Kenanga, sekitar 50 meter dari Gang Ki
Ageng Gribik, tempat penginapannya. Selain itu, ada warung makan tegal lain di
dekat gerbang Unnes, tepat di samping Gang Imam Bonjol. Tak jauh dari sana,
Burjo Asep 2 berdiri berdampingan dengan rumah makan padang di depan gerbang
Unnes.
Setelah
sarapan, Fachri langsung melaju dengan motor sewaannya. Menuruni bukit menuju
pusat kota. Ia berhenti di persimpangan, menunggu lampu hijau, lalu melanjutkan
perjalanan. Dalam perjalanannya, Fachri singgah di SPBU Pertamina untuk mengisi
bahan bakar.
“Pertamax
penuh.”
“Dimulai
dari angka nol, ya.”
Mata
Fachri bergantian menatap tangan petugas yang memegang nozzle, lalu
menatap angka pada mesin.
“Sudah
selesai, ya, pak.”
Fachri
memutar kunci kontak. Menyalakan motor lalu melanjutkan perjalanannya menuju
pusat kota.
Bermodalkan
Google Maps sebagai pemandu liburannya kali ini, Fachri berbelok di setiap
persimpangan sesuai arah peta, sambil mengingat jalan-jalan yang dilaluinya.
Fachri
berhenti di lampu merah persimpangan Tugu Muda. Di seberang jalan dari arahnya
sekarang, terlihat bangunan ikonik Semarang di kejauhan—Lawang Sewu.
Begitu
lampu berubah hijau, ia langsung memasuki area parkir pengunjung. Ya, ini
menjadi destinasi liburan pertamanya di Kota Semarang ini.
Setelah
memarkir motor, Fachri berjalan menuju gerbang utama. Pandangannya terpaku pada
gedung berusia lebih dari 100 tahun itu. Dengan jaket hitam dan pouch di
tangan kirinya, ia berdiri di antrean loket tiket sambil membaca daftar harga.
Sampai
di depan loket.
“Boleh
silakan mau beli tiket yang mana?”
“Mau
satu tiket paket Immersive.”
“Boleh
liat kartu identitasnya?”
“Oh,
boleh. Ini.”
“Baik,
tiket paket Immersive dewasa, totalnya jadi 25 ribu rupiah.”
“Ini
uangnya, Mba.”
Fachri
mengikuti petunjuk arah yang tersedia.
Karena
masih pagi, jadi tempat ini belum terlalu ramai.
Beberapa
pemandu wisata berdiri menawarkan jasa mereka, termasuk kepada Fachri.
“Boleh,
Mas, mau saya temenin biar nggak nyasar berkunjungnya sekalian saya jelasin
juga tentang lawang sewu.”
“Gak
usah kayaknya Pak, terimakasih ya,” jawab Fachri sambil tersenyum.
“Oh
yasudah kalau mau sendiri.”
Fachri
masuk ke ruangan yang pertama, tidak terlalu banyak barang di sini, hanya
beberapa lukisan saja. lanjut berjalan mengikuti petunjuk arah bertuliskan
‘mulai’.
Fachri
melanjutkan ke ruangan berikutnya yang menampilkan miniatur lokomotif uap. Ia
terpukau, memperhatikan setiap detail miniatur dan membaca sejarahnya—mulai
dari tahun pembuatan, pengoperasian di Indonesia, hingga masa pensiun kereta
tersebut. Tak lupa, Fachri memotret beberapa miniatur dengan ponselnya.
Lanjut
ke ruangan berikutnya.
Di
ruangan lain, Fachri menemukan diorama Stasiun Kereta Api Semarang tempo dulu,
lengkap dengan gerbong penumpang dan detail aktivitasnya. Ada juga perlengkapan
petugas, seperti seragam masinis dan PPKA persinyalan.
Di
ruangan yang lain juga, ia melihat diorama Lawang Sewu sendiri, lengkap dengan
miniatur mobil pengunjung.
Fachri
kembali berjalan menuju segala arah yang membuatnya bingung, sempat berpikir,
mungkin lebih baik menyewa pemandu seperti yang ditawarkan tadi agar
kunjungannya lebih teratur.
Naik
ke lantai dua. Hampir seluruh ruangan ini kosong, hanya ada pintu yang
menghubungkan setiap ruangan. Sangat banyak dan panjang, tapi tidak ada
pintunya, hanya kusen kayu yang masih kokoh hingga saat ini.
Ketika
berdiri dan melihat ke arah kusen pintu, benar saja, Fachri melihat sebuah lorong
yang panjang terbuat dari kusen pintu yang menciptakan ilusi seribu pintu yang
sangat menakjubkan. Biasanya Fachri hanya terlihat di foto atau video, kini
terpampang nyata di depan matanya.
Fachri
terdiam melihat keindahan ilusi ini, seolah ada musik klasik seperti di
film-film. Seolah dirinya berkata, ternyata ini semua nyata.
Setiap
sudut sangat menarik dan memanjakan mata Fachri. Hal yang wajib adalah
mengambil gambar dengan kamera yang siap mengabadikan bangunan cantik tersebut.
Fachri
melihat sebuah bangunan di depannya. Terlihat bangunan megah bersejarah dengan
atap merah bata dan dinding putih kokoh.
Menara
putih dengan kubah merah menjulang, dikelilingi jendela tinggi berhias kaca
patri. Langit yang cerah dan pepohonan hijau di halaman menambah kesan harmoni,
memadukan keindahan alam dengan arsitektur kolonial yang penuh sejarah dan tak
lekang oleh waktu.
Dari
kejauhan, Fachri melihat perempuan di lantai bawah, rasanya dia pernah bertemu
dengan perempuan ini, tapi entah di mana. Ia berusaha mengingatnya.
Tidak
lama mengingat, Fachri tahu siapa dia. Dia perempuan yang kemarin siang ia
temui saat istirahat di rumah makan, siapa yang sangka akan bertemu di tempat
ini.
Entah
apa yang mendorong Fachri, tapi dia baru saja menuruni anak tangga untuk
menghampiri perempuan itu.
Dengan
langkah santai, Fachri menghampirinya. Tepat saat perempuan itu ber-selfie,
tanpa sengaja Fachri ikut bergaya dan terabadikan di latar belakang.
Perempuan
itu terkejut, menyadari keberadaan Fachri dalam fotonya.
“Eh,
maaf, gak sengaja masuk frame, ya,” Fachri tersenyum.
“Gak
apa-apa, malah jadi lucu,” jawabnya
ramah.
“Kita
ketemu lagi, masih inget gue gak?”
“Hmm,
kita kayaknya pernah ketemu, ya? Tapi di mana?”
“Pernah,
kemarin di rumah makan, waktu bus kita lagi istirahat bareng.”
“Oh,
lo yang kemarin makan satu meja bareng gue, ya?”
“Akhirnya,
lo inget juga.”
“Sorry-sorry,
gue gak inget muka lo.”
“Iya
santai aja,” Fachri tersenyum. “Oiya, kita belum kenalan, boleh kenalan?”
“Boleh,”
perempuan itu terkekeh melihat Fachri.
Fachri
menjulurkan tangannya,” gue Fachri.”
“Gue
Aurelia Isvara, bisa panggil gue Aurel,” tangannya bersalaman dengan Fachri.
“Gak
nyangka kita bakal ketemu lagi di sini, btw lo sama siapa ke sini?”
“Gue
sendiri aja, kalo lo?” kata Aurel.
“Gue
juga sendiri, gimana kalo kita tour bareng di sini?”
“Boleh,
ide bagus, daripada kita sendiri-sendiri.”
Aurel
berjalan ke tengah lapangan, disusul dengan Fachri. Banyak stand UMKM
yang menjual berbagai makanan dan minuman, seperti ayam goreng hingga es teh
manis. Tapi mereka masih mau berkeliling.
Kembali
mengagumi betapa megah dan kokohnya bangunan menara putih dengan kubah merah
menjulang tinggi di hadapannya saat ini. Fachri terpukau.
Aurel
melihat Fachri begitu terkesan. Fachri menoleh ke arah Aurel, sontak mereka
saling adu tatap satu sama lain.
“Gue
mau ke menara kaca itu, lo mau ikut?” kata Fachri.
“Eh,
em, boleh, gue ikut.”
Berjalan
beriringan menuju menara kaca.
Fachri
dan Aurel masih saling berbincang. Seperti sekarang, mereka yang saling
bertanya sedang apa di kota ini. Fachri jawab cukup simpel, hanya liburan dari
suntuknya bekerja di ibu kota. Sedangkan Aurel, dia memang sedang menjalani
kuliahnya di Semarang, sudah semester 8.
“Lagi
skripsian dong?” kata Fachri.
“Iya,
sedikit lagi selesai sih,” kata Aurel.
Fachri
terdiam.
Matanya
membola menatap betapa indahnya kaca patri yang ada di hadapannya, Aurel yang
ada di sampingnya ikut terdiam, walaupun Aurel sudah pernah ke Lawang Sewu
sebelumnya.
Dua
kelompok mengantre untuk bergantian berfoto dengan latar belakang kaca patri,
termasuk Fachri dan Aurel.
Kelompok
sebelumnya sudah selesai, mereka lanjut ke tempat lain bersama pemandunya.
Sekarang giliran kelompok pertama yang menunggu untuk mengambil foto. Tidak
lama mereka sudah selesai.
Kini
giliran Fachri dan Aurel.
“Lo
duduk di tangga, sana,” dagunya menunjuk ke anak tangga. “Tapi nanti gantian,
ya,” kata Aurel.
“Oke,
aman.”
Fachri
duduk di anak tangga dengan latar belakang kaca patri, lalu Aurel memotretnya,
kadang asal jepret yang membuat hasilnya seperti candid, kadang memotret
setelah Fachri siap.
Sudah
selesai, sekarang giliran Aurel yang duduk di tangga, Fachri memotretnya seraya
mengarahkannya.
Sudah
selesai, tidak punya banyak waktu karena harus bergantian dengan orang lain
yang ingin berfoto juga.
Hari
semakin siang, Fachri dan Aurel kembali mengelilingi Lawang Sewu sesekali
saling bertukar peran sebagai fotografer.
“Kayaknya
kita udah ngelilingin semuanya, gue mau nonton film lima dimensi itu, kalo lo
tiket apa?” kata Fachri.
“Sama,
gue juga punya tiket nonton. Mau bareng lagi?”
“Ayo.”
Setelah
masuk ke ruang tunggu, akhirnya nomor antrian mereka dipanggil, berpindah ke
ruangan selanjutnya.
Lampu
ruangan sengaja dimatikan, hitungan mundur dimulai, lalu film pun dimulai.
Menceritakan
tengtang sejarah berdirinya Lawang Sewu, yang dibangun pertama kali sebagai
gedung kantor perusahaan kereta api swasta NIS milik Belanda. Hingga saat ini
menjadi Museum Kereta Api Indonesia. Film selesai.
Fachri
dan Aurel keluar dari pintu samping bangunan yang menuju ke lapangan, ada
miniatur lokomotif listrik berwarna biru yang sudah pudar karena termakan usia.
Hari
semakin panas, mereka kehausan, beruntung ada stand es teh di pinggir lapangan.
“Mas,
es teh nya dua ya, yang original.” Kata Aurel.
Tidak
lama menunggu, minumannya sudah jadi.
Aurel
duduk di samping Fachri.
“Ngomong-ngomong,
lo ke sini kan mau liburan, habis dari Lawang Sewu ini, lo mau ke mana?” kata
Aurel yang menusuk tutup gelas dengan sedotan.
“Gue
mau ke Tembalang sih, atau lo ada rekomendasi tempat?”
“Tembalang
ya, oke juga rute liburan lo. Kalau gitu, gue bakal jadi pemandu wisata lo
selama di sini, gimana? Deal?”
“Oke,
daripada gue kesasar di kota orang, mulai sekarang lo yang pandu gue buat
liburan gue selama di sini.”
Tangan
mereka bersalaman untuk ke dua kalinya.
______
Setelah
30 menaiki motor, mereka berdua, sudah ada di daerah Tembalang yang sebelumnya telah
mereka setujui.
Kata
Aurel, di daerah ini ada tempat makan yang enak, kita juga bisa menikmati
indahnya Kota Semarang dari Bukit Tembalang ini, terutama saat malam hari. Meskipun
dia juga dapat rekomendasi dari TikTok.
Kali
ini Aurel merekomendasikan makan siang di Burjo Motekar 11, di depan minimarket
yang di sampingnya ada toko ice cream. Aurel memesan nasi ayam bali dan
teh anget, Fachri juga ikut memesan makanan yang sama, sesuai rekomendasi dari
Aurel. Tapi minumnya es teh.
Setelah
makan, Fachri dan Aurel berbincang sejenak, tidak banyak, karena kebanyakan karbohidrat.
Perut lagi kenyang-kenyangnya.
_____
Menaiki
motor selama hampir 1 jam, mereka berdua, tiba di Kota Lama. Memarkirkan motor,
lalu berjalan.
Berhenti
sejenak.
“Aurel,
lo haus gak sih?” kata Fachri.
“Lumayan,
kenapa?”
Fachri
mengarahkan dagunya ke gerai minuman yang dilihat, “beli minum, yuk, ke sana.”
“Ayo,
gue juga penasaran.”
Tiba
di depan gerai, Fachri memesan dua es teh. Sudah jadi, Fachri mengambil dua es
teh, satunya untuk Aurel.
Sangat
unik kemasan es teh ini, jika biasanya menggunakan gelas plastik, kali ini
menggunakan kantong plastik, dengan tulisan ‘es teh tik; es teh kantong
plastik’.
Fachri
dan Aurel masuk ke Pasar Antik Asem Kawak yang ada di Kota Lama, tidak jauh
dari Gereja Blenduk.
Dari
luar tempatnya seperti bangunan berwarna putih biasa dengan spanduk di depan
pintunya. Tapi, begitu masuk ke dalam, tempat ini sangat luas. Ini adalah surga
untuk para kolektor, banyak barang antik jaman dulu, bahkan ada yang dari tahun
50-an.
Sudah
puas mengelilingi seisi pasar antik, mereka berdua, duduk di bangku beton yang
ada di Taman Srigunting. Cukup ramai taman sore ini, ada tiga bangku terbuat
dari beton yang mengelilingi pohon besar di tengahnya.
“Jadi,
Aurel, lo kuliah di sini, universitas apa?” kata Fachri.
“Unnes,
Universitas Negeri Semarang.” Kata Aurel.
“Unnes?”
Aurel
menganguk, “iya.”
“Gue
sewa penginapan di deket Unnes, di Gang Ki Ageng Gribik, seinget gue.”
“Hah,
yang bener? Kost-an gue di situ juga.”
Keduanya
saling tatap, sejenak, lalu tertawa bersama. Sebuah kebetulan yang aneh, mulai
dari bertemu di rumah makan, di Lawang Sewu, hingga tempat tinggal yang ada di
dalam gang yang sama.
“Kalo
gitu, nanti pulang bareng aja sama gue,” kata Fachri.
“Boleh
juga, lumayan gue jadi irit ongkos,” kata Aurel, “ngomong-ngomong, lo di
Semarang ngapain?”
Fachri
membenarkan posisi duduknya, meminum es teh tik. “Gue, cuman liburan aja, bosan
sama kerjaan, cuman bikin pusing doang.”
“Jadi
cuman liburan aja, berapa hari rencana liburan lo?”
“Sebentar
aja, cuman empat hari, lusa gue pulang ke Bogor, lanjut kerja seninnya.”
“Gue
juga dari Bogor,” mereka berdua saling tatap, lalu tertawa bersama untuk kedua
kalinya.
“Pertemuan
aneh apa ini, ketemu orang dari kota asal yang sama, tapi kenalan di kota orang
lain.” Kata Fachri.
“Iya
juga ya, jadi, lo kerja apa?”
“Gue,
kerja desain grafis.”
Tidak
terasa, mereka ngobrol hingga matahari terbenam.
Perut
mereka terasa lapar kembali, Fachri ingin makan ramen. Aurel punya rekomendasi
tempat makan ramen yang enak dari TikTok di sini, tempatnya tidak jauh dari
mereka duduk sekarang. Tidak perlu berlama-lama, mereka berdua langsung jalan
ke tempat tujuan. Sudah lapar.
Fachri
dan Aurel berjalan, beriringan di tengah ramainya Kota Lama di senja ini. Fachri
gagal fokus dengan gedung yang dilihatnya.
Itu
Gedung Marba.
Gedung
Marba memancarkan pesona kolonial, dengan dinding merah bata berpadu ornamen
putih. Tulisan "MARBA" di puncaknya menegaskan identitasnya sebagai
ikon sejarah. Lampu jalan vintage yang menyala hangat, menambah kesan
romantis, sementara keramaian orang di depannya membawa suasana modern ke
tengah nuansa klasik.
“Kayaknya
gue gak salah, jadiin lo pemandu liburan gue.”
Aurel
memasang wajah sombong, lalu tertawa.
Tidak
jauh berjalan, mereka berdua tiba di sai ramen, restoran ramen khas Jepang.
Lokasinya di persimpangan Jalan Cendrawasih kawasan Kota Lama, yang dikelilingi
bangunan dengan atap khas bergaya kolonial.
Sambil
makan mi ramen, Aurel bertanya selanjutnya Fachri mau kemana, siapa tau
perannya sebagai pemandu wisata dadakan belum selesai.
“Fachri,
habis ini mau kemana lagi?”
“Ke
mana ya?”
Fachri
membuka catatan yang ada di ponselnya, melihat rundown liburannya hari
ini. Dengan mulut yang masih mengunyah mi ramen, Fachri memperlihatkan layar
ponsel ke Aurel, seolah bilang, gue mau liat citylight Kota Semarang.
Aurel
mengangguk, paham.
“gue
kayaknya tau tempat yang cocok buat kita, buat liat keindahan Kota Semarang,” kata
Aurel.
“Oh
ya, dimana? Jangan ke Tembalang lagi, terlalu jauh, udah malem juga.”
“Iya
tenang aja, habis liat citylight, agenda lo mau kemana lagi?”
“Pulang,
ke penginapan,” kata Fachri singkat.
“Oke,
kalau gue cariin kafe yang bisa liat citylight yang searah jalan pulang,
ya.”
Fachri
mengangguk, mengikuti saran dari Aurel. Tangan kiri Aurel sibuk, scroll
TikTok, mencari rekomendasi kafe yang pas untuk mereka melihat citylight
Kota Semarang, sementara tangan kanannya memegang sumpit, mulutnya penuh mengunyah
mi. Aurel menemukan kafe yang cocok untuk mereka, Fachri setuju.
Setelah
makan, mereka menaiki motor yang sama menuju Antariksa Kopi yang sudah mereka
sepakati.
30
menit Aurel menjadi maps untuk Fachri.
Fachri
dan Aurel sudah sampai di Antariksa Kopi, di pinggir Jalan Papandayan. Mereka
berdua, hanya memesan dua minuman, masih kenyang untuk makan makanan berat,
bahkan untuk camilan.
Malam
ini Cafe Antariksa sangat ramai, parkiran penuh. Fachri melihat kesegala arah,
mencari tempat yang kosong untuk mereka. Fachri pergi ke rooftop cafe,
sama seperti di bawah, penuh. Mungkin lebih penuh di atas sini. Kembali ke
bawah.
Beruntung
ada bangku yang kosong dua dari pojokan, mereka duduk bersama, melihat
keindahan lampu-lampu dari atas bukit.
Cuaca
malam ini cukup cerah, bukit-bukit terlihat seperti gambar siluet.
Bintang-bintang menghiasi langit Kota Semarang malam ini, menambah keindahan di
mata Fachri dan Aurel yang menikmati citylight Kota Semarang.
“Cantik,”
kata Fachri singkat.
Aurel
menoleh, menatap Fachri yang menikmati keindahan kota.
“Iya
kan, ini pertama kalinya juga gue liat citylight sama orang yang baru
kenal, terutama cowok.”
“Betul
juga, aneh ya rasanya,” Fachri menoleh ke arah Aurel.
Selesai
menikmati citylight, mereka berdua, menaiki motor kembali, lalu pulang. Fachri
mengantar Aurel hingga depan gerbang kost-an, diakhiri dengan mereka
saling bertukar nomor telepon.
______
Pukul
6 pagi, Fachri terbangun, membuka catatan di ponselnya, melihat agenda liburan
hari ini.
Satu
pesan Whatsapp masuk, nomor yang belum ada di daftar kontaknya.
‘Fachri,
ini gue Aurel, lo udah bangun belum?’
‘Oh
Aurel, iya gue baru bangun, masih ngantuk sih, kenapa?’
‘Lo
mau sarapan sama soto gak?’
‘Boleh
deh.’
‘Kalo
gitu, sekarang lo mandi dan siap-siap, dua jam lagi lo jemput gue ke sini ya,
tunggu di depan gerbang.’
‘Oke,’
balas Fachri singkat.
Fachri
sudah ada di depan gerbang kos Aurel, menunggunya yang masih di kamarnya. Fachri
sempat bertemu dengan pemilik kos ini, seorang TNI, umurnya kisaran 40-50
tahun.
“Misi
Pak,” kata Fachri.
“Nggeh,
Mas, nunggu siapa?” kata Bapak itu tengah menyiram tanaman, di depan kos.
“Nunggu
Aurel, Pak.”
“Oalah,
Mba Aurel, sudah dikabarin belum Mba Aurelnya?”
“Sudah,
Pak. Katanya tunggu sebentar lagi.”
“Oalah,
saya Pak Nardi, pemilik kos ini, itu di samping, rumah pribadi saya.”
“Nggeh,
Pak.”
Aurel
membuka gerbang, menyapa Pak Nardi yang masih sibuk menyiram tanaman. Fachri
mulai menyalakan motor, mereka berdua pergi setelah berpamitan dengan Pak
Nardi.
“Jadi
lo mau ngajak gue makan soto di mana?”
“Di
Jalan Taman Siswa, ada soto yang enak, gue sering beli kalo gak mager jalan.”
“Oke,
arahin gue ya.”
Dengan
arahan Aurel, mereka berdua tiba di Warung Soto Ayam Bang Drajat, di Jalan
Cempaka Sari II. Aurel memesan dua soto bening, masing-masing setengah porsi. Fachri
memasang wajah bingung.
“Kenapa
setengah porsi?” kata Fachri.
“Setengah
porsi aja udah banyak dan bikin kenyang, kecuali kalo perut lo kayak karung,
mungkin setengah porsi bakal kurang,” kata Aurel. “Udah liat aja nanti, cukup
kok setengah porsi.”
Fachri
hanya mengangguk.
Dua
mangkuk soto hangat sudah ada di hadapan mereka berdua, tidak perlu berlama-lama,
Fachri dan Aurel langsung menyantap soto tersebut.
Selesai
makan, mereka berdua membayar yang mereka pesan. Mereka berdua, kembali menaiki
motor sewaan Fachri.
Kali
ini, Aurel jadi pemandu liburannya lagi. Terutama, setelah Aurel melihat
catatan liburan di ponsel Fachri, sangat monoton bagi Aurel. Maka dari itu,
daripada liburan Fachri menjadi sia-sia di Kota Semarang ini, lebih baik Aurel
memandu liburannya, setidaknya menjadi menyenangkan.
Di
persimpangan lampu merah. Fachri ingin tahu kemana Aurel akan membawanya hari
ini, Fachri senang ada yang menemaninya berlibur.
“Kita
mau ke mana, Aurel?”
“Sekarang
kita ke mall, gue mau ajak lo main Time Zone, trus kita makan siang di
OTI Fried Chicken Heritage” kata Aurel semangat, yang pastinya dia dapat rekomendasi makanan dari TikTok. “Itu aja rencana yang gue pikirin sampe sekarang, sisanya
terserah lo mau ke mana.”
Fachri
mengangguk paham.
Mereka
berdua semakin dekat, Aurel juga yang mulai merasa nyaman dengan Fachri, meski
mereka berdua baru saling kenal. Bahkan tangan Aurel memeluk Fachri yang sedang
fokus mengendarai motor.
Jantungnya
berdetak kencang, Fachri belum pernah merasakan hal seperti sejak lama,
senyumnya merekah di balik kaca helm. Begitu juga Aurel yang tersenyum lebar di
bahu Fachri.
______
Berjalan
di dalam mall, menaiki eskalator, melihat-lihat baju, sepatu. Mereka
berdua, tiba di lantai paling atas, tempat Time Zone.
Berjalan
ke kasir, mengisi saldo kartu Time Zone. Mereka berdua, mulai bermain. Mulai
dari street basketball, capit boneka, hockey meja, hingga pump
it up. Sangat menyenangkan.
Hingga
Aurel mengajak Fachri berfoto, Fachri setuju, dia mengeluarkan ponselnya untuk mengambil
gambar.
“Bukan
foto pake hp, Fachri!” Kata Aurel menghela nafas. “Kita photobox, lo
harus ada kenang-kenangan sama gue disini.”
“Oh
gitu, oke juga, gue setuju.”
Mereka
beruda, masuk ke dalam sebuah kotak berukuran 2x2 meter. Mulai menggesek kartu,
lalu berfoto berdua. Sudah selesai foto, Aurel membagi kertas foto menjadi dua
strip, masing-masing dari mereka memegang satu sama lain.
“Simpen
ini, jangan sampe ilang, kalo ilang lo akan nyesel,” kata Aurel.
“Iya
iya, udah kayak dikasih kunci berangkas aja.” Kata Fachri. “Habis ini kita mau langsung
makan siang?”
“Gue
mau beli roti, ada roti enak di lantai bawah.”
“Iyakah?
Roti apa?”
“Tous
less jours.”
“Hah?
Roti toilet jur? Nama rotinya kok serem?”
“Bukan
toilet jur! Itu bahasa Prancis, artinya ‘setiap hari’.”
“Oh,
gue kira bumbu dapur baru.”
“Kehidupan
pegawai kantoran monoton ya, sampe-sampe liburan aja monoton banget kalo gue
nggak rubah semua jadwal di catatan hp lo.”
“Begitu
deh,” sambil membayangkan dirinya liburan di Planet Mars.
Tiba
di toko roti yang Aurel maksud, mereka berdua memesan roti isi, lalu
memakannya.
Selesai
makan roti dari Prancis, mereka bedua berjalan menuju parkiran. Tanpa disadari,
meraka saling bergandengan tangan. Hingga hamir sampai di parkiran, Fachri
sadar memegang tangan Aurel daritadi. Kaget, ia langsung melepaskan tangannya.
Aurel
tersenyum. Fachri memakai helm di kepalanya, begitu juga dia ketika menempatkan
helm di kepala Aurel, sangat hati-hati.
______
Hari
semakin siang, cuaca cerah menambah kesan panas di jalanan. Mereka berdua,
ingin cepat-cepat sampai di OTI Fried Chicken Heritage.
15
menit menaiki motor bersama, mereka berdua, tiba di tempat makan yang mereka
rencanakan. Sangat ramai hari ini, mungkin karena akhirn pekan, mungkin juga
karena ini viral di media sosial.
Begitu
sampai, mereka langsung masuk ke dalam restoran. Wajar saja, di luar, matahari
sedang terik-teriknya.
Fachri
mengantre, diikuti Aurel di belakangnya. Aurel menatap lekat punggung Fachri.
Tiba
di kasir, pelayan bertanya menu apa yang akan mereka pilih.
“Lo
mau makan yang mana, Aurel.”
“Ini
aja,” Aurel menunjuk satu porsi paketan ayam berisi ayam, nasi dan minuman.
Sementara
Fachri memesan ayam katsu. Selesai memesan, mereka duduk di bangku ujung, dekat
sekat dengan ruangan berikutnya.
“Aurel,”
kata Fachri.
“Hmm,”
jawab Aurel, mulutnya masih mengunyah.
“Maaf
ya, tadi gue megang tangan lo, gue gak sengaja beneran deh.”
Aurel
berhenti mengunyah.
“Kapan
lo pegang tangan gue?”
“Tadi,
pas di mall mau ke parkiran motor.”
“Oh,
gue pikir lo sengaja megang tangan gue karena lo naksir gue.”
“Hah?”
Fachri tersedak, lalu minum. “Bukan, gak gitu..”
“Santai-santai,
gue bercanda,” Aurel terkekeh. “Cuman aneh aja, lo minta maaf karena megang
tangan gue, tapi lo gak minta maaf waktu lo ngambil kentang goreng gue tadi.”
Fachri
tersenyum, “Itu beda, Aurel. Darurat, gue laper.”
“iya
iya, Fachri,” Aurel menggelengkan kepala. “Tapi kentang goreng gue jadi
kesengajaan lo dua kali sekarang.”
Selesai
makan, mereka berdua tidak ngobrol satu sama lain. Maklum, perut lagi
kenyang-kenyangnya. Aurel fokus menatap ponselnya, sesekali tertawa melihat
video singkat TikTok. Fachri juga fokus ke layar ponselnya, matanya membaca
pesan dari group chat Whatsapp kantornya. Lagi-lagi Aurel tertawa.
“Aurel,
lo jangan jadi gila di sini!” kata Fachri.
“Iya
maaf,” kata Aurel. Masih tertawa.
“Gue
pulang besok pagi. Lo tahu kan. Jadi, gue mau cari oleh-oleh dari sini,” kata Fachri,
menatap mata Aurel.
“Lo
mau oleh-oleh apa?” Aurel menatap balik.
“Belum
tahu, lo ada rekomendasi?”
Aurel
mengangguk, “Gue rekomendasiin oleh-oleh yang suka gue bawa kalo pulang ke
Bogor,”
Selesai
makan. Mereka berdua, pergi menuju tempat yang maksud Aurel.
30
menit melewati jalanan Kota Semarang, Fachri dan Aurel tiba di tempat yang
Aurel maksud. Di pinggir Jalan Pandanaran, sebuah bangunan bertuliskan; Bandeng
Juwana Erlina. Pusat Oleh-Oleh Khas Semarang dan Jawa Tengah.
Masuk
ke dalam toko yang dipenuhi aroma bandeng presto, wingko, dan aneka camilan.
Suasana ramai membuat toko ini terasa hidup.
“Lo
mau bawain apa buat keluarga lo?” kata Aurel.
“Apa
aja, asal gak ribet waktu di bus,” Fachri melihat aneka oleh-oleh yang dipajang
di etalase besar.
“Kalo
gitu, ini aja.” Aurel menunjukan moaci gemini. “Gue jamin, rasanya enak dan lo
akan suka.”
“Oke,
gue serahin semuanya ke lo.”
Sambil
menyusuri rak, dari belakang, Fachri melihat lamat-lamat Aurel. Memperhatikan
secara detail, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah cantiknya, pelukan
hangat saat di atas motor, kebersamaan selama ini, Fachri simpan ke dalam
memori ingatannya.
“Daripada
lo diem bengong kayak bandeng beku, mending lo bangtuin cicipin rasanya, siapa
tahu ada yang lo suka.”
“Gue
ga bengong, gue lagi liatin hal yang indah yang pernah gue temui.”
“Gombal,
lo?”
“Gak,”
kata Fachri. “Lo, udah ahli ya buat milih oleh-oleh.”
“Ya
iyalah, gue bukan cuman cantik, tapi pinter nyari selera, apalagi sama orang
datar kayak lo.”
Tidak
jauh dari Aurel berdiri, dia mengambil dua bungkus wingko.
“Nah,
ini buat teman ngopi di rumah. Wingko babat, enak banget!”
“Ngopi?
Gue gak ngopi, asam lambung.”
“Yauda
minum susu aja, kayak bocah,” kata Aurel menggelengkan kepalanya.
Keranjang
belanja sudah hampir penuh dengan segala camilan, Fachri meminta tidak usah
banyak-banyak, akan merepotkannya ketika pulang nanti.
Menuju
kasir, Fachri membawa semua camilan di dalam keranjang, mulai dari bandeng presto,
wingko, tahu bakso, moaci gemini yang disarankan Aurel. Hingga saat di meja
kasir, pelayan menawarkan sampel dari keripik mangga. Fachri suka, langsung
membeli tiga bungkus. Aurel geleng-geleng kepala.
Keluar
dari toko, mereka berdua, kembali menaiki motor.
Hari
semakin sore, Fachri dan Aurel kembali ke penginapan masing-masing. Aurel
membantu merapihkan barang bawaan Fachri di penginapannya.
_____
Malam
harinya.
Aurel
mengajak Fachri melihat keindahan Kota Semarang, lagi. Sebelum kembali ke
Bogor. Fachri setuju, dia bersiap menjemput Aurel.
“Gausah,
gue udah di depan penginapan lo,” Kata Aurel di telepon.
Di
bawah lampu Kota Semarang, mereka berdua menaiki motor bersama. Aurel memeluk Fachri
seraya menunjukan arah, sementara Fachri terus melaju mengikuti arahan Aurel.
“Aurel,”
kata Fachri.
“Hemm,”
Balas Aurel lembut.
“Kita
mau kemana?”
“Kita
lihat citylight, lagi, sebelum lo pulang.”
“Iya
tapi kemana?”
“kita
naik Ferris Wheel, di Citra Grand. Gue pengen ke sana, berdua, sama lo,” Kata
Aurel lembut.
30
menit menaiki motor, mereka berdua, tiba di Citra Grand. Terlihat sangat jelas
dari gerbang masuk, sebuah kincir angin yang sangat besar. Di loket, Aurel
memesan dua tiket.
Fachri
dan Aurel menunggu gilirannya naik, setiap orang dapat dua kali putaran.
Giliran
Fachri dan Aurel. Di dalam kabin, seperti sangkar burung, mereka duduk
berhadapan. Saling tatap. Fachri merasa canggung, hingga salah tingkah, melihat
kesana kemari. Tidak jelas. Aurel hanya tertawa melihat tingkah laku Fachri
yang tidak karuan, lagi, Aurel memperhatikan Fachri seksama.
“Maaf,
bisa gak ya, jangan liatin gue kayak gitu.” Katak Fachri.
“Gak
bisa, lo lucu habisnya.”
“Muka
gue kayak capung?”
“Lebih
ke tikus sih,”
Mereka
berdua tertawa. Lalu Fachri tersenyum ke Aurel, “Cantik.”
“Hah!
Apa lo bilang?”
“Eh
emm, bukan apa-apa,” Fachri mengelak. “Itu citylight-nya, cantik.”
Aurel
memalingkan wajahnya, tersenyum menatap ke luar jendela. Fachri bisa lihat
senyum Aurel dari pantulan jendela.
“Tapi,
lo tahu ada yang lebih cantik dari citylight,” kata Fachri yang ikut
melihat ke luar jendela.
“Apa
tuh?” kata Aurel.
“Orang
yang lagi sama gue saat ini, dia cantik, dari pertama kali gue ketemu dia.”
Aurel
melirik Fachri, tersenyum ke arahnya. Lalu kembali melihat ke luar jendela. Fachri
mengambil ponsel dari sakunya, mengambil gambar keindahan kota Semarang ketika
mereka tiba di titik paling tinggi. Sesekali Fachri mengambil gambar Aurel,
tapi ketahuan, lalu mereka berfoto berdua.
Udara
malam yang dingin, tidak bisa mengusik kehangatan yang diciptakan mereka.
Turun
dari kincir angin, mereka berdua, duduk di taman yang ada di bawah kincir
angin. Mengambil sebanyak-banyaknya momen kebersamaan, karena besok Fachri
harus kembali.
Sudah
selesai, mereka berdua, kembali menaiki motor kembali ke penginapan.
Di
depan gerbang kos Aurel, Fachri berdiri memegang helmnya, sementara Aurel
menyender santai ke gerbang, melipat kedua tangan di depan dada. Fachri
tersenyum memperhatikan wajah Aurel.
“Lo
kenapa, Fachri? Gak kesambetkan waktu di jalan tadi?” Kata Aurel.
“Makasih
ya, makasih untuk semuanya. Lo udah bikin liburan gue penuh warna, meski cuman
dua hari, tapi gue seneng bisa liburan sama lo,” kata Fachri serius. Aurel
menaikan alisnya.
“Gue
gak akan pernah lupa dimana kita liburan bareng di sini, di kota ini, Semarang.
Kota ini akan selalu jadi favorit gue mulai sekarang, terutama lo, Aurel.”
“Puitis
banget lo.”
“Gue
serius Aurel, semenjak ketemu sama lo, gue ngerasa bisa menemukan kebahagiaan
gue yang selama ini gue cari. Meski cuman dua hari, tapi gue nyaman sama lo, lo
ngajarin gue banyak hal. Semua itu gak akan pernah gue lupain... terutama lo
Aurel. Gue sayang lo.”
“Jadi,
lo nembak gue nih?” Nada setengah bercanda.
“Gak
gitu, gue cuman ungkapin apa yang gue rasain selama ini sama lo.”
Aurel
membenarkan posisinya, senyum kecil di wajahnya masih ada. Mendekat ke Fachri,
mencubit pipinya lalu memeluknya. Fachri terdiam, lalu membalas pelukan Aurel.
Aurel
melepaskan pelukannya.
“Besok
lo pulang jam berapa?” kata Aurel.
“Jam
11 siang, tapi gue harus udah di agen bus setengah jam dari itu.”
“Oke,
besok gue ikut. Sekarang lo pulang gih, istirahat.”
Fachri
mengangguk. Aurel masuk, hendak menutup gerbang.
“Fachri,
gue belum bisa jawab itu sekarang, maaf.”
Fachri
tersenyum. “Gapapa, seenggaknya gue udah bilang.”
“Kasih
gue waktu sampe besok.” Aurel menutup gerbang, meninggalkan Fachri sendiri.
Di
atas kasur, Fachri menatap langit-langit penginapannya. Mengingat semua yang
telah terjadi selama dua hari belakangan, berjalan-jalan di Kota Semarang
bersama Aurel. Tidak bisa tidur. Begitu juga Aurel, membayangkan kebersamaan
bersama Fachri. Kepolosan Fachri yang membuat Aurel merasa nyaman. Selama ini,
dia tidak pernah seterbuka ini kepada oranglain, terutama orang yang baru
dikenalnya.
______
Jam
10 pagi di agen bus Rosalia Indah Krapyak. Setelah mencetak tiket, Fachri duduk
di ruang tunggu penumpang. Suasananya lengang, hanya ada dua orang lain yang
juga menunggu. Ia melirik jam tangan, lalu mendesah pelan.
Aurel
datang dengan motor yang disewa Fachri. Tadi pagi, dia bilang mau pakai motor
itu agak lama, jadi Fachri naik taksi online ke agen bus. Di tangannya,
Aurel membawa tote bag berwarna cokelat. Dia berjalan ke arah Fachri
dengan senyum khasnya. Cantik seperti biasa.
“Lama
banget, tumben,” kata Fachri.
“Yang
penting gue udah di sini, jadi bus lo jam berapa?” kata Aurel.
“Tadi
sih katanya jam 11 sampe sini, sekarang masih di jalan tol menuju kesini, dari
solo.”
“Baguslah,
daripada telat, nanti gue harus nganterin lo ke Bogor, ogah banget gue.” Aurel
menyandarkan punggungnya di bangku.
“Santai
aja, gue yakin lo bakal seneng-seneng aja kalo harus nganterin gue, apalagi
sambil muter-muter di jalan tol.”
“Muter-muter?
Di jalan tol? Otak lo abis kena angin pagi, ya?” Aurel menunjuk kepala Fachri.
Fachri
tertawa lepas.
“Ngomong-ngomong,
itu apa yang ada di tote bag lo? Oleh-oleh lagi?”
Aurel
membuka tote bag-nya dengan gerakan dramatis, seperti akan memperlihatkan harta
karun.
“Lo
mau tau? Ini snack yang bakal bikin perjalanan lo gak ngebosenin.”
“Keripik
pisang... astaga, siapa yang makan beginian sekarang?” Fachri menupuk jidatnya.
“Eh,
ini enak tau! Terus, ada permen jahe, siapa tau lo mabuk darat.”
“Gue
gak mabuk darat, Aurel,” nadanya kesal.
“Gak
apa-apa. Daripada mabuk cinta sama gue, kan lebih bahaya,” Aurel mengedipkan
matanya. Fachri terdiam sejenak, lalu tertawa keras.
“Lo
perhatian banget sih. Makasih ya.”
“Biasa
aja kali. Jangan geer. Gue cuma takut lo balik ke Bogor, terus lupa sama gue.”
Aurel
tersenyum tulus. Fachri mengangguk pelan, menatap Aurel yang sedang asyik
merapikan isi tote bag-nya.
“Aurel,”
panggil Fachri tiba-tiba.
“Apa
lagi? Jangan-jangan lo mau nangis karena gue kasih permen. Jangan nangis nanti
muka lo kayak capung.”
“Bukan.
Gue cuma mau bilang makasih. Makasih banget buat dua hari ini.”
Aurel
menoleh, terdiam sebentar, lalu tersenyum.
“Semalem
kan lo udah drama bilang kayak gitu. Yah, sama-sama. Gue juga seneng kok. Lo
bikin gue ketawa terus sama tingkah polos lo.”
Fachri
tersenyum. Belum dia sempat berkata lagi, pengumuman kedatangan bus terdengar.
Mereka berdua berdiri, Aurel menyerahkan tote bag itu ke Fachri.
“Nih,
bawa. Jangan lupa makan keripik pisangnya, biar lo inget gue.”
“Makasih,
gue gak bakal lupa. Lo lucu banget, serius.”
Sebelum
naik bus, Aurel memegang tangan Fachri, menahannya untuk jangan naik dulu.
“Fachri,
tentang semalem. Maaf, gue belum bisa nerima perasaan lo. Bukan karena lo
kurang baik, justru sebaliknya. Tapi, untuk saat ini, gue pengen nyelesain
studi gue dulu, gue gak mau setengah-setengah. Termasuk hubungan,” kata Aurel
menatap Fachri serius.
“Gue
ngerti, Aurel. Lo harus selesain studi lo dulu, semangat ya skripsiannya, lo
pasti bisa,” kata Fachri memegang kedua bahu Aurel.
Aurel
memeluk Fachri, kali ini lebih kencang, lebih dalam. Fachri memeluk balik.
Mereka berpelukan untuk yang kedua kalinya. Mereka berdua, terdiam saling
merasakan kehangatan di dalam pelukan.
“Lo
harus kabarin gue terus, Fachri.”
“Gue
boleh telepon lo? Buat nemenin lo kalo lagi skripsian sendiri di kos?”
“Boleh,
lo boleh telepon gue kapanpun.”
Aurel
melepaskan pelukannya, kali ini memegang wajah Fachri, mencubit pipinya. Lalu tertawa
bersama.
“Anehnya,
gue gak ngerasa sama sekali kecewa karena lo nolak gue, gue ngerasa lebih plong
aja gitu.”
“Lo
habis pake minyak kayu putih? Kayak orangtua lo,” Aurel meledek. “Maaf ya.”
Fachri
mengangguk. Dia mulai melangkah menuju bus, tepat bus berhenti dan membuka
pintu untuk penumpang.
“Kalo
gue udah jadi sarjana nanti, jangan lupa undang gue liburan lagi, ya. Tapi kali
ini, lo yang traktir semuanya!” kata Aurel sambil tertawa.
Fachri
tertawa lepas, melambaikan tangan. “Deal, Aurel!”
Aurel
tersenyum lebar, melambaikan tangan saat Fachri masuk ke dalam bus.
______
Di
dalam bus, Fachri membuka tote bag dari Aurel. Dia mengambil permen
jahe, membukanya lalu memakannya. Hangat. Itu yang terasa ketika memakan permen
jahe. Fachri melihat kotak ditumpukan paling bawah, ia mengambilnya. Sebuah
kotak kecil berwarna cokelat polos, terbungkus rapi dengan pita sederhana.
Penasaran, dia mengambil kotak itu, membukanya pelan.
Isinya
lumpia khas Semarang. Tersusun rapi, harum rempahnya masih terasa hangat. Fachri
menatap lumpia-lumpia itu sejenak, terdiam.
“Aurel…”
gumamnya pelan.
Dia
tidak pernah meminta oleh-oleh ini, Fachri ingat saat mereka di pusat
oleh-oleh. Fachri melihat penasaran lumpia khas Semarang, ingin mencoba, tapi
tidak mengambilnya. Ternyata Aurel melihatnya, dan kini lumpia itu ada di
tangannya.
Di
sudut kotak, ada secarik kertas kecil.
Tulisan
tangan Aurel terlihat jelas:
"Makan
ini kalau kamu kangen Semarang. Atau… kalau kangen aku. Hati-hati di jalan, ya.”
Komentar
Posting Komentar