LUMPIA RINDU (cerpen)


LUMPIA RINDU



Pagi itu, terminal sudah dipadati manusia.

Pukul setengah tujuh, Fachri duduk di kursi ruang tunggu, ditemani segelas teh hangat yang masih panas mengepul. Udara pagi bercampur riuh rendah suara penumpang yang berlalu-lalang. Libur panjang akhir pekan membuat terminal serupa lautan koper dan kardus.

Namun, Fachri berbeda. Ia hanya membawa sebuah ransel hitam. Empat hari liburan termasuk perjalanan pulang pergi, baginya, tidak memerlukan banyak barang. Ia menatap jam tangannya sejenak, lalu kembali menyeruput teh yang mulai dingin.

Pukul tujuh lewat lima, bus Shantika jurusan Bogor–Jepara akhirnya tiba. Fachri beranjak, mengikuti arus manusia yang bergerak ke arah bus. Ia meletakkan ranselnya di bagasi atas bangku nomor 1A.

Sepuluh menit berlalu, bus mulai melaju, meninggalkan terminal yang semakin sesak. Ia merebahkan tubuhnya, menurunkan sandaran kursi, dan mengangkat sandaran kaki.

Pukul sepuluh pagi, bus Shantika berhenti di sebuah terminal kecil di Bekasi. Terminal itu sederhana, hanya deretan kios yang sesekali dipenuhi pedagang asongan.

Setelah semua penumpang duduk di tempat masing-masing, bus kembali bergerak.

Tepat pukul dua belas siang, bus tiba di sebuah rumah makan.

Fachri melangkah masuk ke dalam, meja panjang dengan makanan prasmanan tersusun rapi. Penumpang mengantre, mengambil nasi dan lauk. Di ujung meja, petugas mencabik sudut tiket sebagai bukti. Fachri, dengan nampan berisi sepiring nasi dan lauk sederhana, melangkah pelan, mencari tempat duduk.

Ia menoleh ke kanan dan kiri—semua meja hampir penuh. Wajah-wajah penumpang yang tengah makan terlihat lelah namun tetap antusias. Fachri berhenti, matanya menyapu sudut ruangan. Tak ada tempat tersisa.

“Mas,” suara lembut memanggil.

Fachri menoleh, menemukan seorang perempuan yang duduk di meja dekat jendela. Wajahnya teduh, senyumnya ringan, dan tangannya memberi isyarat ke arah bangku kosong di hadapannya.

Fachri ragu. Tapi perempuan itu mengangguk kecil, seolah menghapus keraguannya.

“Terima kasih,” ujar Fachri singkat. Perempuan itu hanya tersenyum sambil melanjutkan makan siangnya.

“Sama-sama. Tapi maaf ya kalau mejanya jadi bareng, malah jadi kayak dinner,” perempuan itu bercanda.

“Iya, gak apa-apa. Mari makan,” jawab Fachri.

Bus berhenti selama satu jam di rumah makan ini, waktu yang cukup bagi para penumpang untuk makan, pergi ke toilet, atau menunaikan ibadah salat Zuhur sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan mereka. Fachri telah selesai makan dan mengambil kembali segelas teh untuk diminum. Sementara itu, perempuan di hadapannya masih menyantap makanannya. Perempuan itu terlihat lucu, pipinya penuh dengan makanan, namun wajahnya terlihat seperti lelah mengunyah. Fachri sadar, perempuan di depannya sudah kenyang.

“Panggilan untuk penumpang bus Shantika dengan nomor 5A agar segera kembali ke bus karena bus akan diberangkatkan kembali,” ucap kondektur melalui pengeras suara.

“Eh, gue duluan ya. Bus gue udah mau berangkat lagi,” ujar perempuan di hadapannya, yang kini telah bangkit dari bangkunya. Fachri mengangguk sambil tersenyum.

“Oh, iya,” jawab Fachri sambil mengangguk kecil.

“Kalau gitu gue duluan ya. Dah,” perempuan itu berjalan seraya melambaikan tangan ke arah Fachri, yang berdiri di depan pintu rumah makan. Fachri tidak membalas lambaian tangan itu, ia hanya tersenyum.

Kini giliran bus Fachri yang akan berangkat. Tanpa berlama-lama, Fachri langsung kembali ke bus, kondektur memeriksa daftar penumpang, lalu memimpin doa agar perjalanan berjalan lancar.

Bus yang ditumpangi Fachri kembali melaju, meninggalkan rumah makan dan masuk ke Jalan Tol Trans Jawa.

Sore menjelang, bus akhirnya berhenti di pintu keluar Tol Krapyak. Fachri turun dengan tas ransel di punggungnya. Udara Kota Semarang menyambutnya, sedikit pengap kesan pertama yang Fachri rasakan. Segera ia membuka aplikasi ojek online untuk mencari tumpangan ke penginapan yang sudah ia pesan sebelumnya.

Tak lama, seorang pemuda mendekat dengan sepeda motor BeAT keluaran 2015. Fachri melirik pelat nomor motor itu, mencocokkannya dengan yang tertera di aplikasinya. Sama, gumamnya pelan.

“Mas Fachri, ya?” Pemuda itu menghentikan motornya di hadapan Fachri.

“Iya, betul,” jawab Fachri singkat sambil tersenyum tipis.

“Ke Unnes, kan?” tanya pemuda memastikan.

“Iya, Mas.”

Fachri duduk di motor itu, sesekali membuka ponselnya melihat rute jalan di sekitar penginapannya. Letaknya ada di sekitar Universitas Negeri Semarang, bukan di pusat kota apalagi hotel mewah. Harga murah, hanya 80 ribu rupiah per malam.

“Nah ini udah masuk kawasan Unnes mas.”

Fachri melihat ke segala arah.

“Udah sampe mas.”

______

 

Keesokan paginya, Fachri pergi mencari sarapan dengan motor sewaan. Fachri berhenti di sebuah warung makan tegal di depan Gang Kenanga, sekitar 50 meter dari Gang Ki Ageng Gribik, tempat penginapannya. Selain itu, ada warung makan tegal lain di dekat gerbang Unnes, tepat di samping Gang Imam Bonjol. Tak jauh dari sana, Burjo Asep 2 berdiri berdampingan dengan rumah makan padang di depan gerbang Unnes.

Setelah sarapan, Fachri langsung melaju dengan motor sewaannya. Menuruni bukit menuju pusat kota. Ia berhenti di persimpangan, menunggu lampu hijau, lalu melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanannya, Fachri singgah di SPBU Pertamina untuk mengisi bahan bakar.

“Pertamax penuh.”

“Dimulai dari angka nol, ya.”

Mata Fachri bergantian menatap tangan petugas yang memegang nozzle, lalu menatap angka pada mesin.

“Sudah selesai, ya, pak.”

Fachri memutar kunci kontak. Menyalakan motor lalu melanjutkan perjalanannya menuju pusat kota.

Bermodalkan Google Maps sebagai pemandu liburannya kali ini, Fachri berbelok di setiap persimpangan sesuai arah peta, sambil mengingat jalan-jalan yang dilaluinya.

Fachri berhenti di lampu merah persimpangan Tugu Muda. Di seberang jalan dari arahnya sekarang, terlihat bangunan ikonik Semarang di kejauhan—Lawang Sewu.

Begitu lampu berubah hijau, ia langsung memasuki area parkir pengunjung. Ya, ini menjadi destinasi liburan pertamanya di Kota Semarang ini.

Setelah memarkir motor, Fachri berjalan menuju gerbang utama. Pandangannya terpaku pada gedung berusia lebih dari 100 tahun itu. Dengan jaket hitam dan pouch di tangan kirinya, ia berdiri di antrean loket tiket sambil membaca daftar harga.

Sampai di depan loket.

“Boleh silakan mau beli tiket yang mana?”

“Mau satu tiket paket Immersive.”

“Boleh liat kartu identitasnya?”

“Oh, boleh. Ini.”

“Baik, tiket paket Immersive dewasa, totalnya jadi 25 ribu rupiah.”

“Ini uangnya, Mba.”

Fachri mengikuti petunjuk arah yang tersedia.

Karena masih pagi, jadi tempat ini belum terlalu ramai.

Beberapa pemandu wisata berdiri menawarkan jasa mereka, termasuk kepada Fachri.

“Boleh, Mas, mau saya temenin biar nggak nyasar berkunjungnya sekalian saya jelasin juga tentang lawang sewu.”

“Gak usah kayaknya Pak, terimakasih ya,” jawab Fachri sambil tersenyum.

“Oh yasudah kalau mau sendiri.”

Fachri masuk ke ruangan yang pertama, tidak terlalu banyak barang di sini, hanya beberapa lukisan saja. lanjut berjalan mengikuti petunjuk arah bertuliskan ‘mulai’.

Fachri melanjutkan ke ruangan berikutnya yang menampilkan miniatur lokomotif uap. Ia terpukau, memperhatikan setiap detail miniatur dan membaca sejarahnya—mulai dari tahun pembuatan, pengoperasian di Indonesia, hingga masa pensiun kereta tersebut. Tak lupa, Fachri memotret beberapa miniatur dengan ponselnya.

Lanjut ke ruangan berikutnya.

Di ruangan lain, Fachri menemukan diorama Stasiun Kereta Api Semarang tempo dulu, lengkap dengan gerbong penumpang dan detail aktivitasnya. Ada juga perlengkapan petugas, seperti seragam masinis dan PPKA persinyalan.

Di ruangan yang lain juga, ia melihat diorama Lawang Sewu sendiri, lengkap dengan miniatur mobil pengunjung.

Fachri kembali berjalan menuju segala arah yang membuatnya bingung, sempat berpikir, mungkin lebih baik menyewa pemandu seperti yang ditawarkan tadi agar kunjungannya lebih teratur.

Naik ke lantai dua. Hampir seluruh ruangan ini kosong, hanya ada pintu yang menghubungkan setiap ruangan. Sangat banyak dan panjang, tapi tidak ada pintunya, hanya kusen kayu yang masih kokoh hingga saat ini.

Ketika berdiri dan melihat ke arah kusen pintu, benar saja, Fachri melihat sebuah lorong yang panjang terbuat dari kusen pintu yang menciptakan ilusi seribu pintu yang sangat menakjubkan. Biasanya Fachri hanya terlihat di foto atau video, kini terpampang nyata di depan matanya.

Fachri terdiam melihat keindahan ilusi ini, seolah ada musik klasik seperti di film-film. Seolah dirinya berkata, ternyata ini semua nyata.

Setiap sudut sangat menarik dan memanjakan mata Fachri. Hal yang wajib adalah mengambil gambar dengan kamera yang siap mengabadikan bangunan cantik tersebut.

Fachri melihat sebuah bangunan di depannya. Terlihat bangunan megah bersejarah dengan atap merah bata dan dinding putih kokoh.

Menara putih dengan kubah merah menjulang, dikelilingi jendela tinggi berhias kaca patri. Langit yang cerah dan pepohonan hijau di halaman menambah kesan harmoni, memadukan keindahan alam dengan arsitektur kolonial yang penuh sejarah dan tak lekang oleh waktu.

Dari kejauhan, Fachri melihat perempuan di lantai bawah, rasanya dia pernah bertemu dengan perempuan ini, tapi entah di mana. Ia berusaha mengingatnya.

Tidak lama mengingat, Fachri tahu siapa dia. Dia perempuan yang kemarin siang ia temui saat istirahat di rumah makan, siapa yang sangka akan bertemu di tempat ini.

Entah apa yang mendorong Fachri, tapi dia baru saja menuruni anak tangga untuk menghampiri perempuan itu.

Dengan langkah santai, Fachri menghampirinya. Tepat saat perempuan itu ber-selfie, tanpa sengaja Fachri ikut bergaya dan terabadikan di latar belakang.

Perempuan itu terkejut, menyadari keberadaan Fachri dalam fotonya.

“Eh, maaf, gak sengaja masuk frame, ya,” Fachri tersenyum.

“Gak apa-apa, malah jadi lucu,” jawabnya ramah.

“Kita ketemu lagi, masih inget gue gak?”

“Hmm, kita kayaknya pernah ketemu, ya? Tapi di mana?”

“Pernah, kemarin di rumah makan, waktu bus kita lagi istirahat bareng.”

“Oh, lo yang kemarin makan satu meja bareng gue, ya?”

“Akhirnya, lo inget juga.”

Sorry-sorry, gue gak inget muka lo.”

“Iya santai aja,” Fachri tersenyum. “Oiya, kita belum kenalan, boleh kenalan?”

“Boleh,” perempuan itu terkekeh melihat Fachri.

Fachri menjulurkan tangannya,” gue Fachri.”

“Gue Aurelia Isvara, bisa panggil gue Aurel,” tangannya bersalaman dengan Fachri.

“Gak nyangka kita bakal ketemu lagi di sini, btw lo sama siapa ke sini?”

“Gue sendiri aja, kalo lo?” kata Aurel.

“Gue juga sendiri, gimana kalo kita tour bareng di sini?”

“Boleh, ide bagus, daripada kita sendiri-sendiri.”

Aurel berjalan ke tengah lapangan, disusul dengan Fachri. Banyak stand UMKM yang menjual berbagai makanan dan minuman, seperti ayam goreng hingga es teh manis. Tapi mereka masih mau berkeliling.

Kembali mengagumi betapa megah dan kokohnya bangunan menara putih dengan kubah merah menjulang tinggi di hadapannya saat ini. Fachri terpukau.

Aurel melihat Fachri begitu terkesan. Fachri menoleh ke arah Aurel, sontak mereka saling adu tatap satu sama lain.

“Gue mau ke menara kaca itu, lo mau ikut?” kata Fachri.

“Eh, em, boleh, gue ikut.”

Berjalan beriringan menuju menara kaca.

Fachri dan Aurel masih saling berbincang. Seperti sekarang, mereka yang saling bertanya sedang apa di kota ini. Fachri jawab cukup simpel, hanya liburan dari suntuknya bekerja di ibu kota. Sedangkan Aurel, dia memang sedang menjalani kuliahnya di Semarang, sudah semester 8.

“Lagi skripsian dong?” kata Fachri.

“Iya, sedikit lagi selesai sih,” kata Aurel.

Fachri terdiam.

Matanya membola menatap betapa indahnya kaca patri yang ada di hadapannya, Aurel yang ada di sampingnya ikut terdiam, walaupun Aurel sudah pernah ke Lawang Sewu sebelumnya.

Dua kelompok mengantre untuk bergantian berfoto dengan latar belakang kaca patri, termasuk Fachri dan Aurel.

Kelompok sebelumnya sudah selesai, mereka lanjut ke tempat lain bersama pemandunya. Sekarang giliran kelompok pertama yang menunggu untuk mengambil foto. Tidak lama mereka sudah selesai.

Kini giliran Fachri dan Aurel.

“Lo duduk di tangga, sana,” dagunya menunjuk ke anak tangga. “Tapi nanti gantian, ya,” kata Aurel.

“Oke, aman.”

Fachri duduk di anak tangga dengan latar belakang kaca patri, lalu Aurel memotretnya, kadang asal jepret yang membuat hasilnya seperti candid, kadang memotret setelah Fachri siap.

Sudah selesai, sekarang giliran Aurel yang duduk di tangga, Fachri memotretnya seraya mengarahkannya.

Sudah selesai, tidak punya banyak waktu karena harus bergantian dengan orang lain yang ingin berfoto juga.

Hari semakin siang, Fachri dan Aurel kembali mengelilingi Lawang Sewu sesekali saling bertukar peran sebagai fotografer.

“Kayaknya kita udah ngelilingin semuanya, gue mau nonton film lima dimensi itu, kalo lo tiket apa?” kata Fachri.

“Sama, gue juga punya tiket nonton. Mau bareng lagi?”

“Ayo.”

Setelah masuk ke ruang tunggu, akhirnya nomor antrian mereka dipanggil, berpindah ke ruangan selanjutnya.

Lampu ruangan sengaja dimatikan, hitungan mundur dimulai, lalu film pun dimulai.

Menceritakan tengtang sejarah berdirinya Lawang Sewu, yang dibangun pertama kali sebagai gedung kantor perusahaan kereta api swasta NIS milik Belanda. Hingga saat ini menjadi Museum Kereta Api Indonesia. Film selesai.

Fachri dan Aurel keluar dari pintu samping bangunan yang menuju ke lapangan, ada miniatur lokomotif listrik berwarna biru yang sudah pudar karena termakan usia.

Hari semakin panas, mereka kehausan, beruntung ada stand es teh di pinggir lapangan.

“Mas, es teh nya dua ya, yang original.” Kata Aurel.

Tidak lama menunggu, minumannya sudah jadi.

Aurel duduk di samping Fachri.

“Ngomong-ngomong, lo ke sini kan mau liburan, habis dari Lawang Sewu ini, lo mau ke mana?” kata Aurel yang menusuk tutup gelas dengan sedotan.

“Gue mau ke Tembalang sih, atau lo ada rekomendasi tempat?”

“Tembalang ya, oke juga rute liburan lo. Kalau gitu, gue bakal jadi pemandu wisata lo selama di sini, gimana? Deal?”

“Oke, daripada gue kesasar di kota orang, mulai sekarang lo yang pandu gue buat liburan gue selama di sini.”

Tangan mereka bersalaman untuk ke dua kalinya.

 

______

 

Setelah 30 menaiki motor, mereka berdua, sudah ada di daerah Tembalang yang sebelumnya telah mereka setujui.

Kata Aurel, di daerah ini ada tempat makan yang enak, kita juga bisa menikmati indahnya Kota Semarang dari Bukit Tembalang ini, terutama saat malam hari. Meskipun dia juga dapat rekomendasi dari TikTok.

Kali ini Aurel merekomendasikan makan siang di Burjo Motekar 11, di depan minimarket yang di sampingnya ada toko ice cream. Aurel memesan nasi ayam bali dan teh anget, Fachri juga ikut memesan makanan yang sama, sesuai rekomendasi dari Aurel. Tapi minumnya es teh.

Setelah makan, Fachri dan Aurel berbincang sejenak, tidak banyak, karena kebanyakan karbohidrat. Perut lagi kenyang-kenyangnya.

_____

 

Menaiki motor selama hampir 1 jam, mereka berdua, tiba di Kota Lama. Memarkirkan motor, lalu berjalan.

Berhenti sejenak.

“Aurel, lo haus gak sih?” kata Fachri.

“Lumayan, kenapa?”

Fachri mengarahkan dagunya ke gerai minuman yang dilihat, “beli minum, yuk, ke sana.”

“Ayo, gue juga penasaran.”

Tiba di depan gerai, Fachri memesan dua es teh. Sudah jadi, Fachri mengambil dua es teh, satunya untuk Aurel.

Sangat unik kemasan es teh ini, jika biasanya menggunakan gelas plastik, kali ini menggunakan kantong plastik, dengan tulisan ‘es teh tik; es teh kantong plastik’.

Fachri dan Aurel masuk ke Pasar Antik Asem Kawak yang ada di Kota Lama, tidak jauh dari Gereja Blenduk.

Dari luar tempatnya seperti bangunan berwarna putih biasa dengan spanduk di depan pintunya. Tapi, begitu masuk ke dalam, tempat ini sangat luas. Ini adalah surga untuk para kolektor, banyak barang antik jaman dulu, bahkan ada yang dari tahun 50-an.

Sudah puas mengelilingi seisi pasar antik, mereka berdua, duduk di bangku beton yang ada di Taman Srigunting. Cukup ramai taman sore ini, ada tiga bangku terbuat dari beton yang mengelilingi pohon besar di tengahnya.

“Jadi, Aurel, lo kuliah di sini, universitas apa?” kata Fachri.

“Unnes, Universitas Negeri Semarang.” Kata Aurel.

“Unnes?”

Aurel menganguk, “iya.”

“Gue sewa penginapan di deket Unnes, di Gang Ki Ageng Gribik, seinget gue.”

“Hah, yang bener? Kost-an gue di situ juga.”

Keduanya saling tatap, sejenak, lalu tertawa bersama. Sebuah kebetulan yang aneh, mulai dari bertemu di rumah makan, di Lawang Sewu, hingga tempat tinggal yang ada di dalam gang yang sama.

“Kalo gitu, nanti pulang bareng aja sama gue,” kata Fachri.

“Boleh juga, lumayan gue jadi irit ongkos,” kata Aurel, “ngomong-ngomong, lo di Semarang ngapain?”

Fachri membenarkan posisi duduknya, meminum es teh tik. “Gue, cuman liburan aja, bosan sama kerjaan, cuman bikin pusing doang.”

“Jadi cuman liburan aja, berapa hari rencana liburan lo?”

“Sebentar aja, cuman empat hari, lusa gue pulang ke Bogor, lanjut kerja seninnya.”

“Gue juga dari Bogor,” mereka berdua saling tatap, lalu tertawa bersama untuk kedua kalinya.

“Pertemuan aneh apa ini, ketemu orang dari kota asal yang sama, tapi kenalan di kota orang lain.” Kata Fachri.

“Iya juga ya, jadi, lo kerja apa?”

“Gue, kerja desain grafis.”

Tidak terasa, mereka ngobrol hingga matahari terbenam.

Perut mereka terasa lapar kembali, Fachri ingin makan ramen. Aurel punya rekomendasi tempat makan ramen yang enak dari TikTok di sini, tempatnya tidak jauh dari mereka duduk sekarang. Tidak perlu berlama-lama, mereka berdua langsung jalan ke tempat tujuan. Sudah lapar.

Fachri dan Aurel berjalan, beriringan di tengah ramainya Kota Lama di senja ini. Fachri gagal fokus dengan gedung yang dilihatnya.

Itu Gedung Marba.

Gedung Marba memancarkan pesona kolonial, dengan dinding merah bata berpadu ornamen putih. Tulisan "MARBA" di puncaknya menegaskan identitasnya sebagai ikon sejarah. Lampu jalan vintage yang menyala hangat, menambah kesan romantis, sementara keramaian orang di depannya membawa suasana modern ke tengah nuansa klasik.

“Kayaknya gue gak salah, jadiin lo pemandu liburan gue.”

Aurel memasang wajah sombong, lalu tertawa.

Tidak jauh berjalan, mereka berdua tiba di sai ramen, restoran ramen khas Jepang. Lokasinya di persimpangan Jalan Cendrawasih kawasan Kota Lama, yang dikelilingi bangunan dengan atap khas bergaya kolonial.

Sambil makan mi ramen, Aurel bertanya selanjutnya Fachri mau kemana, siapa tau perannya sebagai pemandu wisata dadakan belum selesai.

“Fachri, habis ini mau kemana lagi?”

“Ke mana ya?”

Fachri membuka catatan yang ada di ponselnya, melihat rundown liburannya hari ini. Dengan mulut yang masih mengunyah mi ramen, Fachri memperlihatkan layar ponsel ke Aurel, seolah bilang, gue mau liat citylight Kota Semarang.

Aurel mengangguk, paham.

“gue kayaknya tau tempat yang cocok buat kita, buat liat keindahan Kota Semarang,” kata Aurel.

“Oh ya, dimana? Jangan ke Tembalang lagi, terlalu jauh, udah malem juga.”

“Iya tenang aja, habis liat citylight, agenda lo mau  kemana lagi?”

“Pulang, ke penginapan,” kata Fachri singkat.

“Oke, kalau gue cariin kafe yang bisa liat citylight yang searah jalan pulang, ya.”

Fachri mengangguk, mengikuti saran dari Aurel. Tangan kiri Aurel sibuk, scroll TikTok, mencari rekomendasi kafe yang pas untuk mereka melihat citylight Kota Semarang, sementara tangan kanannya memegang sumpit, mulutnya penuh mengunyah mi. Aurel menemukan kafe yang cocok untuk mereka, Fachri setuju.

Setelah makan, mereka menaiki motor yang sama menuju Antariksa Kopi yang sudah mereka sepakati.

30 menit Aurel menjadi maps untuk Fachri.

Fachri dan Aurel sudah sampai di Antariksa Kopi, di pinggir Jalan Papandayan. Mereka berdua, hanya memesan dua minuman, masih kenyang untuk makan makanan berat, bahkan untuk camilan.

Malam ini Cafe Antariksa sangat ramai, parkiran penuh. Fachri melihat kesegala arah, mencari tempat yang kosong untuk mereka. Fachri pergi ke rooftop cafe, sama seperti di bawah, penuh. Mungkin lebih penuh di atas sini. Kembali ke bawah.

Beruntung ada bangku yang kosong dua dari pojokan, mereka duduk bersama, melihat keindahan lampu-lampu dari atas bukit.

Cuaca malam ini cukup cerah, bukit-bukit terlihat seperti gambar siluet. Bintang-bintang menghiasi langit Kota Semarang malam ini, menambah keindahan di mata Fachri dan Aurel yang menikmati citylight Kota Semarang.

“Cantik,” kata Fachri singkat.

Aurel menoleh, menatap Fachri yang menikmati keindahan kota.

“Iya kan, ini pertama kalinya juga gue liat citylight sama orang yang baru kenal, terutama cowok.”

“Betul juga, aneh ya rasanya,” Fachri menoleh ke arah Aurel.

Selesai menikmati citylight, mereka berdua, menaiki motor kembali, lalu pulang. Fachri mengantar Aurel hingga depan gerbang kost-an, diakhiri dengan mereka saling bertukar nomor telepon.

______

 

Pukul 6 pagi, Fachri terbangun, membuka catatan di ponselnya, melihat agenda liburan hari ini.

Satu pesan Whatsapp masuk, nomor yang belum ada di daftar kontaknya.

‘Fachri, ini gue Aurel, lo udah bangun belum?’

‘Oh Aurel, iya gue baru bangun, masih ngantuk sih, kenapa?’

‘Lo mau sarapan sama soto gak?’

‘Boleh deh.’

‘Kalo gitu, sekarang lo mandi dan siap-siap, dua jam lagi lo jemput gue ke sini ya, tunggu di depan gerbang.’

‘Oke,’ balas Fachri singkat.

Fachri sudah ada di depan gerbang kos Aurel, menunggunya yang masih di kamarnya. Fachri sempat bertemu dengan pemilik kos ini, seorang TNI, umurnya kisaran 40-50 tahun.

“Misi Pak,” kata Fachri.

Nggeh, Mas, nunggu siapa?” kata Bapak itu tengah menyiram tanaman, di depan kos.

“Nunggu Aurel, Pak.”

“Oalah, Mba Aurel, sudah dikabarin belum Mba Aurelnya?”

“Sudah, Pak. Katanya tunggu sebentar lagi.”

“Oalah, saya Pak Nardi, pemilik kos ini, itu di samping, rumah pribadi saya.”

Nggeh, Pak.”

Aurel membuka gerbang, menyapa Pak Nardi yang masih sibuk menyiram tanaman. Fachri mulai menyalakan motor, mereka berdua pergi setelah berpamitan dengan Pak Nardi.

“Jadi lo mau ngajak gue makan soto di mana?”

“Di Jalan Taman Siswa, ada soto yang enak, gue sering beli kalo gak mager jalan.”

“Oke, arahin gue ya.”

Dengan arahan Aurel, mereka berdua tiba di Warung Soto Ayam Bang Drajat, di Jalan Cempaka Sari II. Aurel memesan dua soto bening, masing-masing setengah porsi. Fachri memasang wajah bingung.

“Kenapa setengah porsi?” kata Fachri.

“Setengah porsi aja udah banyak dan bikin kenyang, kecuali kalo perut lo kayak karung, mungkin setengah porsi bakal kurang,” kata Aurel. “Udah liat aja nanti, cukup kok setengah porsi.”

Fachri hanya mengangguk.

Dua mangkuk soto hangat sudah ada di hadapan mereka berdua, tidak perlu berlama-lama, Fachri dan Aurel langsung menyantap soto tersebut.

Selesai makan, mereka berdua membayar yang mereka pesan. Mereka berdua, kembali menaiki motor sewaan Fachri.

Kali ini, Aurel jadi pemandu liburannya lagi. Terutama, setelah Aurel melihat catatan liburan di ponsel Fachri, sangat monoton bagi Aurel. Maka dari itu, daripada liburan Fachri menjadi sia-sia di Kota Semarang ini, lebih baik Aurel memandu liburannya, setidaknya menjadi menyenangkan.

Di persimpangan lampu merah. Fachri ingin tahu kemana Aurel akan membawanya hari ini, Fachri senang ada yang menemaninya berlibur.

“Kita mau ke mana, Aurel?”

“Sekarang kita ke mall, gue mau ajak lo main Time Zone, trus kita makan siang di OTI Fried Chicken Heritage” kata Aurel semangat, yang pastinya dia dapat rekomendasi makanan dari TikTok. “Itu aja rencana yang gue pikirin sampe sekarang, sisanya terserah lo mau ke mana.”

Fachri mengangguk paham.

Mereka berdua semakin dekat, Aurel juga yang mulai merasa nyaman dengan Fachri, meski mereka berdua baru saling kenal. Bahkan tangan Aurel memeluk Fachri yang sedang fokus mengendarai motor.

Jantungnya berdetak kencang, Fachri belum pernah merasakan hal seperti sejak lama, senyumnya merekah di balik kaca helm. Begitu juga Aurel yang tersenyum lebar di bahu Fachri.

 

______

 

Berjalan di dalam mall, menaiki eskalator, melihat-lihat baju, sepatu. Mereka berdua, tiba di lantai paling atas, tempat Time Zone.

Berjalan ke kasir, mengisi saldo kartu Time Zone. Mereka berdua, mulai bermain. Mulai dari street basketball, capit boneka, hockey meja, hingga pump it up. Sangat menyenangkan.

Hingga Aurel mengajak Fachri berfoto, Fachri setuju, dia mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar.

“Bukan foto pake hp, Fachri!” Kata Aurel menghela nafas. “Kita photobox, lo harus ada kenang-kenangan sama gue disini.”

“Oh gitu, oke juga, gue setuju.”

Mereka beruda, masuk ke dalam sebuah kotak berukuran 2x2 meter. Mulai menggesek kartu, lalu berfoto berdua. Sudah selesai foto, Aurel membagi kertas foto menjadi dua strip, masing-masing dari mereka memegang satu sama lain.

“Simpen ini, jangan sampe ilang, kalo ilang lo akan nyesel,” kata Aurel.

“Iya iya, udah kayak dikasih kunci berangkas aja.” Kata Fachri. “Habis ini kita mau langsung makan siang?”

“Gue mau beli roti, ada roti enak di lantai bawah.”

“Iyakah? Roti apa?”

“Tous less jours.”

“Hah? Roti toilet jur? Nama rotinya kok serem?”

“Bukan toilet jur! Itu bahasa Prancis, artinya ‘setiap hari’.”

“Oh, gue kira bumbu dapur baru.”

“Kehidupan pegawai kantoran monoton ya, sampe-sampe liburan aja monoton banget kalo gue nggak rubah semua jadwal di catatan hp lo.”

“Begitu deh,” sambil membayangkan dirinya liburan di Planet Mars.

Tiba di toko roti yang Aurel maksud, mereka berdua memesan roti isi, lalu memakannya.

Selesai makan roti dari Prancis, mereka bedua berjalan menuju parkiran. Tanpa disadari, meraka saling bergandengan tangan. Hingga hamir sampai di parkiran, Fachri sadar memegang tangan Aurel daritadi. Kaget, ia langsung melepaskan tangannya.

Aurel tersenyum. Fachri memakai helm di kepalanya, begitu juga dia ketika menempatkan helm di kepala Aurel, sangat hati-hati.

 

______

 

Hari semakin siang, cuaca cerah menambah kesan panas di jalanan. Mereka berdua, ingin cepat-cepat sampai di OTI Fried Chicken Heritage.

15 menit menaiki motor bersama, mereka berdua, tiba di tempat makan yang mereka rencanakan. Sangat ramai hari ini, mungkin karena akhirn pekan, mungkin juga karena ini viral di media sosial.

Begitu sampai, mereka langsung masuk ke dalam restoran. Wajar saja, di luar, matahari sedang terik-teriknya.

Fachri mengantre, diikuti Aurel di belakangnya. Aurel menatap lekat punggung Fachri.

Tiba di kasir, pelayan bertanya menu apa yang akan mereka pilih.

“Lo mau makan yang mana, Aurel.”

“Ini aja,” Aurel menunjuk satu porsi paketan ayam berisi ayam, nasi dan minuman.

Sementara Fachri memesan ayam katsu. Selesai memesan, mereka duduk di bangku ujung, dekat sekat dengan ruangan berikutnya.

“Aurel,” kata Fachri.

“Hmm,” jawab Aurel, mulutnya masih mengunyah.

“Maaf ya, tadi gue megang tangan lo, gue gak sengaja beneran deh.”

Aurel berhenti mengunyah.

“Kapan lo pegang tangan gue?”

“Tadi, pas di mall mau ke parkiran motor.”

“Oh, gue pikir lo sengaja megang tangan gue karena lo naksir gue.”

“Hah?” Fachri tersedak, lalu minum. “Bukan, gak gitu..”

“Santai-santai, gue bercanda,” Aurel terkekeh. “Cuman aneh aja, lo minta maaf karena megang tangan gue, tapi lo gak minta maaf waktu lo ngambil kentang goreng gue tadi.”

Fachri tersenyum, “Itu beda, Aurel. Darurat, gue laper.”

“iya iya, Fachri,” Aurel menggelengkan kepala. “Tapi kentang goreng gue jadi kesengajaan lo dua kali sekarang.”

Selesai makan, mereka berdua tidak ngobrol satu sama lain. Maklum, perut lagi kenyang-kenyangnya. Aurel fokus menatap ponselnya, sesekali tertawa melihat video singkat TikTok. Fachri juga fokus ke layar ponselnya, matanya membaca pesan dari group chat Whatsapp kantornya. Lagi-lagi Aurel tertawa.

“Aurel, lo jangan jadi gila di sini!” kata Fachri.

“Iya maaf,” kata Aurel. Masih tertawa.

“Gue pulang besok pagi. Lo tahu kan. Jadi, gue mau cari oleh-oleh dari sini,” kata Fachri, menatap mata Aurel.

“Lo mau oleh-oleh apa?” Aurel menatap balik.

“Belum tahu, lo ada rekomendasi?”

Aurel mengangguk, “Gue rekomendasiin oleh-oleh yang suka gue bawa kalo pulang ke Bogor,”

Selesai makan. Mereka berdua, pergi menuju tempat yang maksud Aurel.

30 menit melewati jalanan Kota Semarang, Fachri dan Aurel tiba di tempat yang Aurel maksud. Di pinggir Jalan Pandanaran, sebuah bangunan bertuliskan; Bandeng Juwana Erlina. Pusat Oleh-Oleh Khas Semarang dan Jawa Tengah.

Masuk ke dalam toko yang dipenuhi aroma bandeng presto, wingko, dan aneka camilan. Suasana ramai membuat toko ini terasa hidup.

“Lo mau bawain apa buat keluarga lo?” kata Aurel.

“Apa aja, asal gak ribet waktu di bus,” Fachri melihat aneka oleh-oleh yang dipajang di etalase besar.

“Kalo gitu, ini aja.” Aurel menunjukan moaci gemini. “Gue jamin, rasanya enak dan lo akan suka.”

“Oke, gue serahin semuanya ke lo.”

Sambil menyusuri rak, dari belakang, Fachri melihat lamat-lamat Aurel. Memperhatikan secara detail, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah cantiknya, pelukan hangat saat di atas motor, kebersamaan selama ini, Fachri simpan ke dalam memori ingatannya.

“Daripada lo diem bengong kayak bandeng beku, mending lo bangtuin cicipin rasanya, siapa tahu ada yang lo suka.”

“Gue ga bengong, gue lagi liatin hal yang indah yang pernah gue temui.”

“Gombal, lo?”

“Gak,” kata Fachri. “Lo, udah ahli ya buat milih oleh-oleh.”

“Ya iyalah, gue bukan cuman cantik, tapi pinter nyari selera, apalagi sama orang datar kayak lo.”

Tidak jauh dari Aurel berdiri, dia mengambil dua bungkus wingko.

“Nah, ini buat teman ngopi di rumah. Wingko babat, enak banget!”

“Ngopi? Gue gak ngopi, asam lambung.”

“Yauda minum susu aja, kayak bocah,” kata Aurel menggelengkan kepalanya.

Keranjang belanja sudah hampir penuh dengan segala camilan, Fachri meminta tidak usah banyak-banyak, akan merepotkannya ketika pulang nanti.

Menuju kasir, Fachri membawa semua camilan di dalam keranjang, mulai dari bandeng presto, wingko, tahu bakso, moaci gemini yang disarankan Aurel. Hingga saat di meja kasir, pelayan menawarkan sampel dari keripik mangga. Fachri suka, langsung membeli tiga bungkus. Aurel geleng-geleng kepala.

Keluar dari toko, mereka berdua, kembali menaiki motor.

Hari semakin sore, Fachri dan Aurel kembali ke penginapan masing-masing. Aurel membantu merapihkan barang bawaan Fachri di penginapannya.

 

_____

 

Malam harinya.

Aurel mengajak Fachri melihat keindahan Kota Semarang, lagi. Sebelum kembali ke Bogor. Fachri setuju, dia bersiap menjemput Aurel.

“Gausah, gue udah di depan penginapan lo,” Kata Aurel di telepon.

Di bawah lampu Kota Semarang, mereka berdua menaiki motor bersama. Aurel memeluk Fachri seraya menunjukan arah, sementara Fachri terus melaju mengikuti arahan Aurel.

“Aurel,” kata Fachri.

“Hemm,” Balas Aurel lembut.

“Kita mau kemana?”

“Kita lihat citylight, lagi, sebelum lo pulang.”

“Iya tapi kemana?”

“kita naik Ferris Wheel, di Citra Grand. Gue pengen ke sana, berdua, sama lo,” Kata Aurel lembut.

30 menit menaiki motor, mereka berdua, tiba di Citra Grand. Terlihat sangat jelas dari gerbang masuk, sebuah kincir angin yang sangat besar. Di loket, Aurel memesan dua tiket.

Fachri dan Aurel menunggu gilirannya naik, setiap orang dapat dua kali putaran.

Giliran Fachri dan Aurel. Di dalam kabin, seperti sangkar burung, mereka duduk berhadapan. Saling tatap. Fachri merasa canggung, hingga salah tingkah, melihat kesana kemari. Tidak jelas. Aurel hanya tertawa melihat tingkah laku Fachri yang tidak karuan, lagi, Aurel memperhatikan Fachri seksama.

“Maaf, bisa gak ya, jangan liatin gue kayak gitu.” Katak Fachri.

“Gak bisa, lo lucu habisnya.”

“Muka gue kayak capung?”

“Lebih ke tikus sih,”

Mereka berdua tertawa. Lalu Fachri tersenyum ke Aurel, “Cantik.”

“Hah! Apa lo bilang?”

“Eh emm, bukan apa-apa,” Fachri mengelak. “Itu citylight-nya, cantik.”

Aurel memalingkan wajahnya, tersenyum menatap ke luar jendela. Fachri bisa lihat senyum Aurel dari pantulan jendela.

“Tapi, lo tahu ada yang lebih cantik dari citylight,” kata Fachri yang ikut melihat ke luar jendela.

“Apa tuh?” kata Aurel.

“Orang yang lagi sama gue saat ini, dia cantik, dari pertama kali gue ketemu dia.”

Aurel melirik Fachri, tersenyum ke arahnya. Lalu kembali melihat ke luar jendela. Fachri mengambil ponsel dari sakunya, mengambil gambar keindahan kota Semarang ketika mereka tiba di titik paling tinggi. Sesekali Fachri mengambil gambar Aurel, tapi ketahuan, lalu mereka berfoto berdua.

Udara malam yang dingin, tidak bisa mengusik kehangatan yang diciptakan mereka.

Turun dari kincir angin, mereka berdua, duduk di taman yang ada di bawah kincir angin. Mengambil sebanyak-banyaknya momen kebersamaan, karena besok Fachri harus kembali.

Sudah selesai, mereka berdua, kembali menaiki motor kembali ke penginapan.

Di depan gerbang kos Aurel, Fachri berdiri memegang helmnya, sementara Aurel menyender santai ke gerbang, melipat kedua tangan di depan dada. Fachri tersenyum memperhatikan wajah Aurel.

“Lo kenapa, Fachri? Gak kesambetkan waktu di jalan tadi?” Kata Aurel.

“Makasih ya, makasih untuk semuanya. Lo udah bikin liburan gue penuh warna, meski cuman dua hari, tapi gue seneng bisa liburan sama lo,” kata Fachri serius. Aurel menaikan alisnya.

“Gue gak akan pernah lupa dimana kita liburan bareng di sini, di kota ini, Semarang. Kota ini akan selalu jadi favorit gue mulai sekarang, terutama lo, Aurel.”

“Puitis banget lo.”

“Gue serius Aurel, semenjak ketemu sama lo, gue ngerasa bisa menemukan kebahagiaan gue yang selama ini gue cari. Meski cuman dua hari, tapi gue nyaman sama lo, lo ngajarin gue banyak hal. Semua itu gak akan pernah gue lupain... terutama lo Aurel. Gue sayang lo.”

“Jadi, lo nembak gue nih?” Nada setengah bercanda.

“Gak gitu, gue cuman ungkapin apa yang gue rasain selama ini sama lo.”

Aurel membenarkan posisinya, senyum kecil di wajahnya masih ada. Mendekat ke Fachri, mencubit pipinya lalu memeluknya. Fachri terdiam, lalu membalas pelukan Aurel.

Aurel melepaskan pelukannya.

“Besok lo pulang jam berapa?” kata Aurel.

“Jam 11 siang, tapi gue harus udah di agen bus setengah jam dari itu.”

“Oke, besok gue ikut. Sekarang lo pulang gih, istirahat.”

Fachri mengangguk. Aurel masuk, hendak menutup gerbang.

“Fachri, gue belum bisa jawab itu sekarang, maaf.”

Fachri tersenyum. “Gapapa, seenggaknya gue udah bilang.”

“Kasih gue waktu sampe besok.” Aurel menutup gerbang, meninggalkan Fachri sendiri.

Di atas kasur, Fachri menatap langit-langit penginapannya. Mengingat semua yang telah terjadi selama dua hari belakangan, berjalan-jalan di Kota Semarang bersama Aurel. Tidak bisa tidur. Begitu juga Aurel, membayangkan kebersamaan bersama Fachri. Kepolosan Fachri yang membuat Aurel merasa nyaman. Selama ini, dia tidak pernah seterbuka ini kepada oranglain, terutama orang yang baru dikenalnya.

 

______

 

Jam 10 pagi di agen bus Rosalia Indah Krapyak. Setelah mencetak tiket, Fachri duduk di ruang tunggu penumpang. Suasananya lengang, hanya ada dua orang lain yang juga menunggu. Ia melirik jam tangan, lalu mendesah pelan.

Aurel datang dengan motor yang disewa Fachri. Tadi pagi, dia bilang mau pakai motor itu agak lama, jadi Fachri naik taksi online ke agen bus. Di tangannya, Aurel membawa tote bag berwarna cokelat. Dia berjalan ke arah Fachri dengan senyum khasnya. Cantik seperti biasa.

“Lama banget, tumben,” kata Fachri.

“Yang penting gue udah di sini, jadi bus lo jam berapa?” kata Aurel.

“Tadi sih katanya jam 11 sampe sini, sekarang masih di jalan tol menuju kesini, dari solo.”

“Baguslah, daripada telat, nanti gue harus nganterin lo ke Bogor, ogah banget gue.” Aurel menyandarkan punggungnya di bangku.

“Santai aja, gue yakin lo bakal seneng-seneng aja kalo harus nganterin gue, apalagi sambil muter-muter di jalan tol.”

“Muter-muter? Di jalan tol? Otak lo abis kena angin pagi, ya?” Aurel menunjuk kepala Fachri.

Fachri tertawa lepas.

“Ngomong-ngomong, itu apa yang ada di tote bag lo? Oleh-oleh lagi?”

Aurel membuka tote bag-nya dengan gerakan dramatis, seperti akan memperlihatkan harta karun.

“Lo mau tau? Ini snack yang bakal bikin perjalanan lo gak ngebosenin.”

“Keripik pisang... astaga, siapa yang makan beginian sekarang?” Fachri menupuk jidatnya.

“Eh, ini enak tau! Terus, ada permen jahe, siapa tau lo mabuk darat.”

“Gue gak mabuk darat, Aurel,” nadanya kesal.

“Gak apa-apa. Daripada mabuk cinta sama gue, kan lebih bahaya,” Aurel mengedipkan matanya. Fachri terdiam sejenak, lalu tertawa keras.

“Lo perhatian banget sih. Makasih ya.”

“Biasa aja kali. Jangan geer. Gue cuma takut lo balik ke Bogor, terus lupa sama gue.”

Aurel tersenyum tulus. Fachri mengangguk pelan, menatap Aurel yang sedang asyik merapikan isi tote bag-nya.

“Aurel,” panggil Fachri tiba-tiba.

“Apa lagi? Jangan-jangan lo mau nangis karena gue kasih permen. Jangan nangis nanti muka lo kayak capung.”

“Bukan. Gue cuma mau bilang makasih. Makasih banget buat dua hari ini.”

Aurel menoleh, terdiam sebentar, lalu tersenyum.

“Semalem kan lo udah drama bilang kayak gitu. Yah, sama-sama. Gue juga seneng kok. Lo bikin gue ketawa terus sama tingkah polos lo.”

Fachri tersenyum. Belum dia sempat berkata lagi, pengumuman kedatangan bus terdengar. Mereka berdua berdiri, Aurel menyerahkan tote bag itu ke Fachri.

“Nih, bawa. Jangan lupa makan keripik pisangnya, biar lo inget gue.”

“Makasih, gue gak bakal lupa. Lo lucu banget, serius.”

Sebelum naik bus, Aurel memegang tangan Fachri, menahannya untuk jangan naik dulu.

“Fachri, tentang semalem. Maaf, gue belum bisa nerima perasaan lo. Bukan karena lo kurang baik, justru sebaliknya. Tapi, untuk saat ini, gue pengen nyelesain studi gue dulu, gue gak mau setengah-setengah. Termasuk hubungan,” kata Aurel menatap Fachri serius.

“Gue ngerti, Aurel. Lo harus selesain studi lo dulu, semangat ya skripsiannya, lo pasti bisa,” kata Fachri memegang kedua bahu Aurel.

Aurel memeluk Fachri, kali ini lebih kencang, lebih dalam. Fachri memeluk balik. Mereka berpelukan untuk yang kedua kalinya. Mereka berdua, terdiam saling merasakan kehangatan di dalam pelukan.

“Lo harus kabarin gue terus, Fachri.”

“Gue boleh telepon lo? Buat nemenin lo kalo lagi skripsian sendiri di kos?”

“Boleh, lo boleh telepon gue kapanpun.”

Aurel melepaskan pelukannya, kali ini memegang wajah Fachri, mencubit pipinya. Lalu tertawa bersama.

“Anehnya, gue gak ngerasa sama sekali kecewa karena lo nolak gue, gue ngerasa lebih plong aja gitu.”

“Lo habis pake minyak kayu putih? Kayak orangtua lo,” Aurel meledek. “Maaf ya.”

Fachri mengangguk. Dia mulai melangkah menuju bus, tepat bus berhenti dan membuka pintu untuk penumpang.

“Kalo gue udah jadi sarjana nanti, jangan lupa undang gue liburan lagi, ya. Tapi kali ini, lo yang traktir semuanya!” kata Aurel sambil tertawa.

Fachri tertawa lepas, melambaikan tangan. “Deal, Aurel!”

Aurel tersenyum lebar, melambaikan tangan saat Fachri masuk ke dalam bus.

 

______

 

Di dalam bus, Fachri membuka tote bag dari Aurel. Dia mengambil permen jahe, membukanya lalu memakannya. Hangat. Itu yang terasa ketika memakan permen jahe. Fachri melihat kotak ditumpukan paling bawah, ia mengambilnya. Sebuah kotak kecil berwarna cokelat polos, terbungkus rapi dengan pita sederhana. Penasaran, dia mengambil kotak itu, membukanya pelan.

Isinya lumpia khas Semarang. Tersusun rapi, harum rempahnya masih terasa hangat. Fachri menatap lumpia-lumpia itu sejenak, terdiam.

“Aurel…” gumamnya pelan.

Dia tidak pernah meminta oleh-oleh ini, Fachri ingat saat mereka di pusat oleh-oleh. Fachri melihat penasaran lumpia khas Semarang, ingin mencoba, tapi tidak mengambilnya. Ternyata Aurel melihatnya, dan kini lumpia itu ada di tangannya.

Di sudut kotak, ada secarik kertas kecil.

Tulisan tangan Aurel terlihat jelas:

"Makan ini kalau kamu kangen Semarang. Atau… kalau kangen aku. Hati-hati di jalan, ya.”

 

 

 

 

 

 

 


 FACHRI ALTHAF

 

 

 

 

 

 


AURELIA ISVARA

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SALAH DUGA (cerita pendek)

Sinopsis 'LUMPIA RINDU' (cerpen)