LUMPIA RINDU (cerpen)
LUMPIA RINDU Pagi itu, terminal sudah dipadati manusia. Pukul setengah tujuh, Fachri duduk di kursi ruang tunggu, ditemani segelas teh hangat yang masih panas mengepul. Udara pagi bercampur riuh rendah suara penumpang yang berlalu-lalang. Libur panjang akhir pekan membuat terminal serupa lautan koper dan kardus. Namun, Fachri berbeda. Ia hanya membawa sebuah ransel hitam. Empat hari liburan termasuk perjalanan pulang pergi, baginya, tidak memerlukan banyak barang. Ia menatap jam tangannya sejenak, lalu kembali menyeruput teh yang mulai dingin. Pukul tujuh lewat lima, bus Shantika jurusan Bogor–Jepara akhirnya tiba. Fachri beranjak, mengikuti arus manusia yang bergerak ke arah bus. Ia meletakkan ranselnya di bagasi atas bangku nomor 1A. Sepuluh menit berlalu, bus mulai melaju, meninggalkan terminal yang semakin sesak. Ia merebahkan tubuhnya, menurunkan sandaran kursi, dan mengangkat sandaran kaki. Pukul sepuluh pagi, bus Shantika berhenti di sebuah terminal kecil di Bekasi. Terminal itu...